Tanggap Darurat Galodo Solok: Tim Ahli Kementerian PU Kaji Pembangunan Sabo Dam untuk Kendalikan Sedimen
SOLOK, NETRALPOST — Tim gabungan dari Balai Teknik Sabo bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang bergerak cepat melakukan peninjauan langsung ke lokasi bencana banjir bandang (galodo) di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Langkah taktis ini diambil guna melihat secara mendalam kondisi lapangan pascabencana serta mengidentifikasi potensi penanganan jangka panjang melalui pengendalian sedimen yang masif.
Banjir bandang dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Solok. Luapan air yang bercampur dengan material rombakan dari hulu seperti bebatuan besar, potongan kayu, dan lumpur pekat menerjang kawasan hilir secara mendadak. Dampak terjangan ini memutus akses transportasi utama dan merusak berbagai fasilitas vital di sekitarnya.
Berdasarkan laporan pembaruan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terjangan dahsyat galodo ini telah menewaskan 1 orang korban berinisial DA (21) yang terseret arus sejauh 4,5 kilometer. Selain itu, dilaporkan masih ada 1 warga yang hilang dalam proses pencarian, serta 4 orang mengalami luka-luka. Dampak fisik yang berat memaksa sedikitnya 32 jiwa (9 Kepala Keluarga) mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kawasan Arosuka dan Nagari Batang Barus di Kecamatan Gunung Talang menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Kompleks Perkantoran Bupati Solok ikut terendam lumpur dan dilaporkan sebanyak 12 kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengalami kerusakan berat. Selain itu, jalur logistik nasional yang menghubungkan Kota Padang dengan Solok sempat lumpuh total akibat tertimbun material sedimen sepanjang 150 meter.
Guna mempercepat pemulihan dan mencegah ancaman banjir susulan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui jajaran Direktorat Jenderal Sumber Daya Air langsung mengerahkan sejumlah alat berat ke lokasi. Satu unit ekskavator lengan panjang (long arm) diturunkan untuk mengeruk sumbatan sedimen di aliran Batang Baliang, sementara alat berat standar lainnya difokuskan untuk melakukan normalisasi alur sungai di sekitar Nuansa Griya Arosuka.
Di samping penanganan darurat di bagian hilir, fokus utama jajaran Balai Teknik Sabo saat ini adalah menyusun desain mitigasi struktural di bagian hulu. Pembangunan bendungan penahan sedimen atau Sabo Dam menjadi opsi terkuat yang tengah dikaji. Struktur ini dirancang khusus untuk menahan laju material debris dan batu-batu besar tanpa menghentikan aliran air, sehingga potensi daya rusak galodo di masa depan bisa diredam secara signifikan.(nofri)












