Utama
[Utama][column1]
Padang, netralpost --- Rel kereta api di Sumatera Barat bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan bagian dari perjalanan sejarah pembangunan daerah. Jalur ini pernah menjadi penghubung kawasan tambang batu bara Ombilin menuju Pelabuhan Emmahaven (kini Teluk Bayur), sekaligus membuka akses yang menghubungkan kawasan Pesisir hingga Pedalaman di Sumatera Barat, yaitu terhubungnya Pariaman ke Padang panjang, Bukittinggi hingga Payakumbuh dan Sawahlunto. Akibatnya berbagai pusat pertumbuhan ekonomi dan lanskap budaya maupun sosial terbentuk. Kini, rel tersebut tetap menjadi bagian penting mobilitas masyarakat menuju sekolah, tempat kerja, bandara, pusat ekonomi, dan destinasi wisata.
Sejarah tersebut kembali memperoleh makna strategis seiring arah kebijakan nasional dalam memperkuat konektivitas perkeretaapian Pulau Sumatra. Sumatera Barat memiliki modal besar berupa jaringan rel yang telah terbangun, aset prasarana, serta layanan yang hingga kini terus dimanfaatkan masyarakat.
Perkeretaapian di Sumatera Barat mulai berkembang pada akhir abad ke-19 untuk mendukung distribusi batu bara Ombilin. Stasiun Padang dibangun pada 1889 sebagai simpul distribusi menuju Pelabuhan Emmahaven, disusul Stasiun Pulau Air pada 1891 yang diresmikan pada 1 Oktober 1892. Selanjutnya jaringan rel berkembang hingga Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto, Pariaman, dan Naras.
Saat ini, KAI Divre II Sumatera Barat mengelola jaringan rel sepanjang 312,232 kilometer spoor (kmsp), terdiri dari 110,910 kmsp jalur aktif dan 201,322 kmsp jalur nonaktif. Operasional didukung 20 stasiun dan shelter penumpang serta 4 stasiun angkutan barang.
Layanan penumpang dilayani melalui KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai, sedangkan angkutan barang melayani distribusi semen dan klinker pada relasi Indarung–Bukit Putus.
Kepercayaan masyarakat terhadap kereta api terus meningkat. Sepanjang Semester I 2026, KAI Divre II Sumatera Barat melayani 1.140.586 pelanggan, sementara angkutan barang mencapai 556.465 ton, terdiri atas 362.740 ton semen dan 193.725 ton klinker.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan meningkat dari sekitar 1,09 juta pada 2021 menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025, atau tumbuh sekitar 81 persen. KA Pariaman Ekspres menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbesar, sedangkan KA Lembah Anai juga menunjukkan peningkatan signifikan setelah penyesuaian relasi perjalanan pada 2026.
Besarnya potensi tersebut turut didukung pertumbuhan sektor pariwisata Sumatera Barat. Berbagai destinasi seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi memiliki peluang semakin terkoneksi melalui transportasi berbasis rel. Di sisi lain, keberadaan jalur nonaktif seperti Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi, hingga Solok–Muaro Kalaban menjadi peluang pengembangan jaringan pada masa mendatang.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab mengatakan sejarah panjang perkeretaapian Sumatera Barat merupakan modal penting dalam mendukung penguatan konektivitas Pulau Sumatra.
“Perkeretaapian di Sumatera Barat memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi sejarah, tetapi juga manfaat yang terus dirasakan masyarakat. Kereta api mendukung mobilitas harian, sektor pariwisata, distribusi logistik, hingga akses menuju bandara. Hal ini menunjukkan transportasi berbasis rel masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus dikembangkan,” ujar Reza.
Ia menambahkan, tren peningkatan jumlah pelanggan dan angkutan barang menjadi indikator semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kereta api.
“Apabila pengembangan jaringan maupun reaktivasi jalur dapat direalisasikan secara bertahap sesuai perencanaan pemerintah, kami optimistis kereta api akan semakin berperan dalam memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses menuju kawasan wisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. KAI Divre II Sumatera Barat siap mendukung pengembangan perkeretaapian sebagai bagian dari pembangunan transportasi nasional yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tutup Reza.
Sejarah panjang, tingginya kepercayaan masyarakat, serta potensi pengembangan jaringan menjadikan Sumatera Barat memiliki posisi strategis dalam mendukung terwujudnya konektivitas perkeretaapian Pulau Sumatra yang semakin terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.
Sumbar, netralpost — Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Barat, Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy, S.I.K., melaksanakan kegiatan Safari Subuh melalui program Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid Muhsinin, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan ibadah pagi ini dilanjutkan dengan agenda "Ngopi Subuh" bersama Sahabat-Sahabat Kapolda dari jamaah mesjid setempat dalam suasana penuh keakraban.
Kehadiran orang nomor satu di jajaran Polda Sumbar tersebut disambut hangat oleh pengurus masjid serta jemaah yang hadir sejak dini hari.
Pelaksanaan shalat subuh berjamaah ini menjadi momentum strategis bagi kepolisian untuk semakin mendekatkan diri kepada masyarakat sekaligus mendengar langsung aspirasi warga seputar situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, S.S., M.Tr.A.P., menyampaikan bahwa program gerakan subuh berjamaah dan ngopi subuh merupakan wujud nyata pendekatan humanis Polri kepada masyarakat di Ranah Minang.
"Kegiatan ini bukan sekadar sarana peningkatan iman dan takwa melalui ibadah berjamaah, melainkan bentuk cooling system serta wadah komunikasi langsung antara pimpinan kepolisian dengan masyarakat," ujar Kombes Pol Susmelawati Rosya.
Menurutnya, melalui program "Ngopi Subuh", Kapolda Sumbar ingin meruntuhkan sekat formal antara aparat penegak hukum dan warga. Diskusi santai yang dibalut dengan secangkir kopi hangat dinilai sangat efektif untuk menyerap masukan, kritik, serta saran demi meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian di Sumatera Barat.
"Melalui silaturahmi yang terbangun lewat Ngopi Subuh ini, Bapak Kapolda berharap sinergi dan kemitraan antara Polri dan masyarakat semakin kokoh. Stabilitas kamtibmas yang aman dan kondusif tentu tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan aktif serta partisipasi dari seluruh elemen masyarakat," tambahnya.
Kegiatan ditutup dengan dialog antara Kapolda Sumbar dan para jemaah serta warga sekitar. Suasana kebersamaan terlihat kental tatkala Kapolda berbaur duduk bersama jamaah, mencerminkan kedekatan Polri yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat.
Netralpost, --- Saya pendukung Argentina. Sejak lama saya jatuh cinta pada gaya bermainnya. Kekalahan Argentina di final Piala Dunia 2026 tentu mengecewakan, tetapi tidak membuat saya larut dalam kesedihan. Dalam olahraga, menang dan kalah adalah bagian dari pertandingan.
Yang justru mengubah cara pandang saya adalah seorang anak muda Spanyol bernomor punggung 19: Lamine Yamal.
Saya tidak hanya melihat kemampuannya mengolah bola. Saya melihat keberanian seorang pemuda yang tampil tanpa rasa takut di panggung terbesar sepak bola dunia. Saya melihat kerendahan hati ketika ia mengangkat tangan dan memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur. Saya juga menemukan kisah hidupnya; tentang seorang ibu yang pernah mendampingi bayi Yamal saat dipotret bersama Lionel Messi, dan tentang neneknya yang menjadi sosok penting dalam membentuk karakter serta mimpinya.
Mungkin foto Messi memandikan bayi Yamal hanyalah sebuah kebetulan. Namun, kerja keras, pendidikan keluarga, doa, dan keteguhan hati adalah pilihan yang membawanya hingga berdiri di final Piala Dunia.
Sepak bola akhirnya mengajarkan saya satu hal: jangan hanya mengagumi pemenang, tetapi pelajarilah proses yang membentuk mereka menjadi pemenang.
Pada akhirnya, sepak bola bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Sepak bola adalah tentang bagaimana kita belajar menghargai perjuangan, karakter, dan nilai-nilai kehidupan dari setiap pertandingan. Sebab kemenangan akan tercatat dalam sejarah, tetapi karakter akan selalu hidup dalam ingatan.
Penulis: Herdiyulis Sekretaris Umum KONI Kota Solok
Bandung, netralpost – Sosok Ketua Umum PW FRN kembali menjadi teladan bagi seluruh anggota dan simpatisan. Meski dikenal sebagai seorang Master Hukum dengan segudang pengalaman, beliau tetap menunjukkan sikap rendah hati dan membumi. Jumat, 17/07/2026
Dalam sebuah momen sederhana, Ketua Umum terlihat duduk lesehan, tanpa sekat, tanpa jarak dengan siapa pun. Kesederhanaan inilah yang membuat beliau begitu dihormati dan disayang, tidak hanya oleh keluarga besar PW FRN, tetapi juga oleh para Jendral dan tokoh yang selama ini dekat dengan organisasi.
“Pemimpin sejati itu bukan diukur dari jabatan atau gelar, tapi dari seberapa dekat dia dengan rakyatnya. Dan itu ada di diri Ketum kita,” ujar salah satu pengurus PW FRN.
Sikap keteladanan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah organisasi terletak pada karakter pemimpinnya. Ilmu boleh setinggi langit, tapi hati harus sedalam bumi.
Padang, netralpost --- PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan melalui berbagai program edukasi serta penanganan titik-titik rawan di sepanjang jalur rel. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya keselamatan di perlintasan sebidang yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari operator, pemerintah, hingga masyarakat.
Kepala Humas PT KAI (Persero) Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab mengatakan bahwa keselamatan di perlintasan sebidang merupakan tanggung jawab bersama yang hanya dapat terwujud melalui kolaborasi seluruh pihak.
“Keselamatan di perlintasan bukan hanya menjadi tanggung jawab KAI sebagai operator, tetapi juga pemerintah sebagai regulator dan penyelenggara jalan, serta masyarakat sebagai pengguna jalan. Masing-masing memiliki peran penting untuk menciptakan perjalanan kereta api yang aman. Kepatuhan terhadap aturan dan meningkatnya kesadaran masyarakat merupakan kunci utama dalam menekan potensi kecelakaan di perlintasan,” ujar Reza.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, KAI Divre II Sumbar secara konsisten melaksanakan sosialisasi keselamatan di sekolah-sekolah yang berada di sekitar jalur kereta api. Melalui kegiatan ini, para pelajar diberikan pemahaman mengenai bahaya beraktivitas di jalur rel, pentingnya mematuhi rambu dan sinyal perkeretaapian, serta tata cara melintasi perlintasan sebidang dengan aman.
Selain edukasi kepada generasi muda, KAI Divre II Sumbar juga terus melakukan berbagai langkah mitigasi di lapangan, di antaranya penutupan perlintasan sebidang yang tidak memenuhi ketentuan, sosialisasi keselamatan di perlintasan resmi baik yang dijaga maupun tidak dijaga, serta pemasangan banner keselamatan pada titik-titik yang memiliki potensi risiko kecelakaan.
Menurut Reza, pendekatan yang menggabungkan edukasi dengan penanganan titik rawan merupakan strategi yang efektif dalam membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan.
“Keselamatan pelanggan maupun masyarakat akan semakin kuat apabila edukasi dilakukan secara terus-menerus dan diikuti dengan penanganan titik-titik rawan. Kami ingin membangun budaya selamat, bukan hanya meningkatkan kewaspadaan sesaat. Ketika masyarakat memahami risikonya dan fasilitas keselamatan terus diperkuat, maka potensi kecelakaan dapat diminimalkan,” tambahnya.
Sebagai bagian dari upaya membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar jalur operasional, KAI Divre II Sumbar juga menyalurkan bantuan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa sarana olahraga, sarana ibadah, serta sarana kebersihan dengan total nilai Rp72.850.000.
Bantuan tersebut disalurkan kepada Gereja Katholik Kristus Bangkit Pasar Usang berupa pengeras suara (speaker indoor), Jorong Semua Talao Mundam Batang Anai, Kantor Lurah Jalan Kereta Api Kota Pariaman, Nagari Kapalo Hilalang, dan Pos Pemuda Pampangan RW 01 berupa mesin potong rumput serta alat semprot pertanian. Selain itu, Desa Cimparuh Kota Pariaman menerima mesin potong rumput dan tong sampah, SSB Sungai Abang Lubuk Alung menerima bantuan sarana olahraga sepak bola, sedangkan Masjid Hidayah Sungai Buluh Batang Anai memperoleh bantuan sarana ibadah.
Reza menjelaskan bahwa program TJSL tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan yang aman di sekitar jalur kereta api.
“Kami berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mempererat kolaborasi dalam menjaga keselamatan di sekitar jalur kereta api. KAI berkomitmen untuk terus hadir melalui program-program yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Masyarakat Pemuda Pampangan Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Boy, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian KAI Divre II Sumbar kepada masyarakat yang berada di sekitar jalur kereta api.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada KAI Divre II Sumbar atas bantuan yang diberikan kepada kelompok masyarakat kami. Bantuan ini sangat bermanfaat untuk mendukung kegiatan lingkungan sekaligus menjadi wujud nyata kepedulian KAI terhadap masyarakat di sekitar jalur rel. Kami juga mengapresiasi sosialisasi keselamatan yang rutin dilakukan karena mampu meningkatkan kesadaran warga untuk lebih disiplin dan berhati-hati saat melintasi perlintasan kereta api. Kami siap mendukung upaya KAI dalam membangun budaya keselamatan karena keselamatan merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujar Boy.
Melalui sinergi yang kuat antara operator, pemerintah, dan masyarakat, KAI Divre II Sumbar optimistis budaya keselamatan di perlintasan sebidang akan terus tumbuh sehingga mampu menciptakan perjalanan kereta api yang semakin selamat, aman, dan andal bagi seluruh pelanggan maupun masyarakat.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjadi pelopor keselamatan di lingkungan sekitar jalur kereta api. Melalui kolaborasi yang erat antara operator, pemerintah, aparat, lembaga pendidikan, dan masyarakat, diharapkan budaya keselamatan di perlintasan sebidang semakin mengakar sehingga mampu mewujudkan perjalanan kereta api yang selamat, aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi seluruh pelanggan maupun pengguna jalan” tutup Reza.
Netralpost --- Peristiwa ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang pada 14 Juli 2026 menjadi pukulan telak bagi dunia pendidikan. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik justru berubah menjadi lokasi yang mengancam keselamatan. Peristiwa ini bukan hanya persoalan kriminal yang harus diproses secara hukum, tetapi juga menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan.
Apabila benar dugaan bahwa pelaku pernah mengalami perundungan dalam waktu yang lama sebagaimana informasi yang beredar, maka kita tidak boleh hanya berhenti pada pertanyaan siapa pelakunya, tetapi juga berani bertanya: mengapa seorang anak bisa sampai pada titik tersebut? Pertanyaan ini bukan untuk membenarkan tindakan kekerasan, melainkan untuk mencari akar persoalan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Bullying bukan lagi persoalan sepele. Ia adalah bentuk kekerasan yang meninggalkan luka psikologis mendalam. Banyak korban memilih diam karena takut, malu, atau merasa tidak akan mendapatkan perlindungan. Ketika suara mereka tidak pernah didengar, luka itu terus menumpuk menjadi tekanan yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan dampak yang tidak pernah dibayangkan.
Persoalan ini juga tercermin dalam berbagai data. Asesmen Nasional 2022 menunjukkan sekitar 36 persen peserta didik di Indonesia berada pada risiko mengalami bullying di sekolah. Angka tersebut memperlihatkan bahwa perundungan bukan kasus yang berdiri sendiri, melainkan persoalan sistemik yang membutuhkan perhatian serius.
Di sisi lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam laporan tahunannya juga menegaskan bahwa persoalan perlindungan anak di lingkungan pendidikan masih menjadi tantangan besar. Sepanjang 2024, KPAI menerima 2.057 pengaduan terkait berbagai persoalan perlindungan anak, menunjukkan bahwa ruang pendidikan masih belum sepenuhnya aman bagi peserta didik.
UNESCO bahkan mencatat bahwa sekitar satu dari tiga peserta didik usia 13–15 tahun di dunia pernah mengalami bullying di sekolah. Fakta ini menunjukkan bahwa bullying merupakan persoalan global yang berdampak terhadap kesehatan mental, prestasi belajar, hingga perkembangan sosial anak.
Karena itu, sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan. Sekolah harus menjadi ruang yang mampu memberikan rasa aman, perlindungan, dan penghormatan terhadap martabat setiap peserta didik. Ketika seorang anak takut datang ke sekolah karena intimidasi atau kekerasan dari teman sebayanya, sesungguhnya fungsi pendidikan sedang mengalami kegagalan.
PW IPNU Sumatera Barat memandang bahwa tragedi ini harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem pencegahan bullying di seluruh satuan pendidikan. Setiap sekolah perlu memiliki mekanisme pelaporan yang aman, pembentukan Satuan Tugas Anti-Bullying yang benar-benar bekerja, layanan konseling yang mudah diakses, serta pendampingan psikologis bagi korban maupun pelaku. Budaya saling melindungi harus dibangun, bukan hanya melalui aturan, tetapi melalui keteladanan guru, keterlibatan orang tua, dan kepedulian seluruh warga sekolah.
Kami juga menilai bahwa pendidikan karakter harus diperkuat melalui penguatan literasi anti-bullying dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal. Di Sumatera Barat, penguatan kembali mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) layak dipertimbangkan karena mengandung nilai raso jo pareso, tenggang rasa, musyawarah, dan penghormatan kepada sesama. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga fondasi karakter yang sangat relevan untuk mencegah lahirnya perilaku kekerasan di lingkungan pendidikan.
Tragedi di MAN 3 Padang hendaknya tidak hanya menjadi berita yang menghebohkan selama beberapa hari. Peristiwa ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk memperkuat perlindungan anak. Jangan sampai perhatian kita baru muncul ketika sebuah tragedi telah terjadi.
Bullying yang dibiarkan adalah bom waktu. Mungkin ia tidak meledak hari ini, tetapi ketika tidak ada yang mendengar jeritan korbannya, dampaknya dapat muncul dalam bentuk yang tidak pernah kita bayangkan. Tugas kita adalah memastikan bahwa setiap anak merasa aman untuk belajar, dihargai untuk tumbuh, dan didengar ketika mereka meminta pertolongan. Itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya.
Penulis: Metra Wiranda Putra (Ketua PW IPNU Sumatera Barat)
Sumbar, netralpost – Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy, S.I.K., melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Kantor Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Sumatera Barat, Rabu (15/7/2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda silaturahmi Kapolda Sumbar dengan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) pasca mengemban amanah sebagai Kapolda Sumbar.
Kedatangan Kapolda disambut langsung oleh Kabinda Sumbar Achmad Dailimy, S.E., M.M., beserta jajaran pejabat. Dalam kunjungan tersebut, Kapolda didampingi Kabiro SDM Polda Sumbar dan Kabidkeu Polda Sumbar.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Selain mempererat hubungan kelembagaan, kedua pimpinan juga membahas pentingnya membangun komunikasi yang konstruktif, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan kolaborasi dalam mengantisipasi berbagai dinamika yang berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di Sumatera Barat.
Kapolda Sumbar Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy mengatakan, silaturahmi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara Polda Sumbar dan Badan Intelijen Daerah dalam menjaga kondusivitas wilayah.
“Pertemuan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan komunikasi antara Polda Sumbar dengan Badan Intelijen Daerah. Kolaborasi yang baik akan menjadi modal penting dalam mendeteksi potensi gangguan sejak dini, sehingga situasi kamtibmas di Sumatera Barat tetap aman dan kondusif,” ujar Kapolda.
Menurut Kapolda, tantangan keamanan yang terus berkembang membutuhkan kerja sama yang erat antarinstansi agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi secara cepat dan tepat.
“Kolaborasi yang erat antarinstansi merupakan fondasi penting dalam mewujudkan keamanan yang kondusif dan memberikan rasa aman kepada masyarakat,” tegas Kapolda.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol. Susmelawati Rosya, S.S., M.Tr., mengatakan bahwa silaturahmi tersebut semakin memperkuat koordinasi dan sinergi antarinstansi dalam menjaga situasi kamtibmas di Sumatera Barat.
“Komunikasi dan koordinasi yang baik menjadi kunci dalam menjaga stabilitas keamanan serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ucapnya.
Melalui silaturahmi ini, diharapkan hubungan antara Polda Sumbar dan Badan Intelijen Daerah Sumatera Barat semakin solid, sehingga sinergi dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dapat terus diperkuat demi terciptanya situasi kamtibmas yang aman, damai, dan kondusif di Ranah Minang.(*)
PASAMAN BARAT, NETRALPOST – Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Talamau, Polres Pasaman Barat, melaksanakan aksi penanaman ratusan bibit pohon mahoni di Kampung Pasanggiang, Jorong Perhimpunan, Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen gerakan Polri Peduli Lingkungan sekaligus upaya konkret mitigasi bencana alam di wilayah rawan longsor.
Aksi penghijauan pascabencana ini turut dihadiri dan didukung penuh oleh jajaran personel Polsek Talamau, Ketua PABPDSI Talamau Ajumril, Kepala Jorong Perhimpunan, serta perwakilan dari media lokal.
Kapolres Pasaman Barat, AKBP Agung Tribawanto, S.I.K., melalui Kapolsek Talamau, IPTU Fifriki Candra, S.H., M.H., menegaskan komitmen jajarannya dalam upaya pelestarian alam.
"Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian kepolisian dalam menjaga kelestarian alam dan antisipasi dini bencana. Fokus utama aksi ini menyasar area perbukitan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) guna memperkuat struktur pengikat tanah sekaligus meminimalisir potensi ancaman erosi," ujar Kapolsek Talamau.
Dalam keterangannya, IPTU Fifriki Candra mengajak seluruh lapisan masyarakat Talamau untuk kembali menghidupkan budaya menanam pohon. Menurutnya, kelestarian hutan yang terjaga merupakan kunci utama dalam mencegah bencana musiman seperti banjir dan tanah longsor di wilayah Talu.
"Kami ingin membangun kesadaran bersama. Penanaman pohon keras seperti mahoni ini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga kelestarian alam kita. Jika hutan kita rusak, dampaknya akan kembali ke masyarakat dalam bentuk bencana banjir dan longsor," tambah IPTU Fifriki Candra.
Selain melakukan penanaman fisik, Polsek Talamau bersama unsur Muspika dan instansi kehutanan setempat memanfaatkan momentum ini untuk melakukan edukasi sadar bencana. Sosialisasi ini bertujuan membangun pemahaman warga mengenai pentingnya mitigasi kebencanaan secara mandiri.
Pihak kepolisian sengaja melibatkan generasi muda secara aktif dalam aksi ini. Polsek Talamau mengundang perwakilan pelajar dari berbagai sekolah di Kecamatan Talamau, di antaranya MAN 4 Pasaman Barat, SMKN 1 Talamau, dan MAM Talu. Kehadiran para siswa ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta lingkungan dan kepedulian terhadap bumi sejak usia dini.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman, lancar, dan kondusif. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi momentum berkelanjutan bagi seluruh pihak untuk terus menjaga ekosistem wilayah Talamau, sekaligus menjadi pengingat bahwa sinergi antara aparat, masyarakat, dan generasi muda adalah garda terdepan dalam menjaga keselamatan lingkungan dari ancaman bencana di masa depan.(***)
PADANG, NETRALPOST – Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumatera Barat terus berkomitmen untuk menghadirkan transformasi pelayanan publik yang modern, cepat, dan transparan. Melalui program unggulan bertajuk "Polantas Menyapa", Korps Sabuk Putih ini turun langsung ke tengah masyarakat Kota Padang guna mengoptimalkan sekaligus mempermudah proses kepengurusan pajak kendaraan bermotor.
Pendekatan ini sengaja dirancang untuk mengubah paradigma lama pelayanan kepolisian menjadi jauh lebih inklusif dan bersahabat. Di bawah komando Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumbar, Kombes Pol. H. M. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H., program ini tidak hanya fokus pada penyelesaian urusan administratif semata. Petugas di lapangan didorong untuk membangun komunikasi dua arah yang hangat, ramah, dan solutif di loket-loket pelayanan terpadu.
Kombes Pol. H. M. Reza Chairul Akbar Sidiq menegaskan bahwa esensi utama dari "Polantas Menyapa" adalah menghadirkan rasa nyaman di setiap aspek pelayanan publik kepolisian. "Kami ingin memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Dengan senyum dan sapaan hangat, kami berharap masyarakat merasa nyaman dan terbantu selama mengurus dokumen kendaraan mereka," ungkap Dirlantas Polda Sumbar dalam sebuah keterangannya.
Langkah optimalisasi pelayanan ini menyasar langsung warga Kota Padang yang tengah memproses administrasi kendaraan bermotor, seperti perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan administrasi wajib pajak lainnya. Dengan adanya asistensi langsung dari para personel di lokasi, alur birokrasi pengurusan menjadi lebih ringkas dan meminimalkan potensi terjadinya antrean panjang.
Pendekatan humanis yang mengedepankan senyuman, keramahan, serta pemberian informasi yang jelas ini terbukti mendapat respons yang sangat positif dari para wajib pajak. Warga mengaku merasa jauh lebih dihargai dan merasa terbantu dengan kehadiran petugas yang sigap mengarahkan setiap tahapan proses pengurusan tanpa adanya kerumitan.
Melalui konsistensi program "Polantas Menyapa" ini, Ditlantas Polda Sumbar berharap kedekatan emosional antara polisi lalu lintas dan masyarakat Sumatera Barat dapat terjalin semakin kuat. Transformasi layanan publik yang semakin transparan dan responsif ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban pajak kendaraan sekaligus menjaga ketertiban berlalu lintas. (*)
PADANG, NETRALPOST — Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Polda Sumbar) kembali menggencarkan kampanye keselamatan berkendara di wilayah hukumnya. Langkah ini diambil guna menekan angka kecelakaan lalu lintas yang sering kali dipicu oleh kelalaian kecil para pengendara. Melalui slogan edukatif terbaru, pihak kepolisian mengingatkan masyarakat bahwa tindakan yang dianggap sepele justru bisa berujung petaka di jalan raya.
Dalam kampanye visual yang disebarkan, Ditlantas Polda Sumbar menyoroti jargon menarik, yaitu "Sederhana, Tapi Polisi Gak Suka". Kalimat ini sengaja dipilih untuk menyentuh psikologis para pengendara, khususnya generasi muda, agar sadar bahwa pelanggaran yang sering dianggap lumrah tetaplah sebuah pelanggaran hukum. Pihak kepolisian menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi tindakan yang membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.
Dirlantas Polda Sumbar, Kombes Pol. Reza Chairul Akbar, menyatakan bahwa kesadaran berlalu lintas di masyarakat harus terus dipompa agar tidak kendur. "Banyak pengendara yang merasa tindakan seperti tidak memakai helm saat jarak dekat atau bermain ponsel sebentar adalah hal yang biasa. Padahal, statistik menunjukkan kecelakaan fatal justru sering berawal dari pemikiran menyepelekan aturan tersebut. Kami tidak akan bosan untuk mengingatkan dan menindak demi keselamatan bersama," tegas Reza.
Setidaknya ada tujuh poin pelanggaran utama yang kini menjadi fokus perhatian dan pengawasan ketat petugas di lapangan. Pelanggaran-pelanggaran tersebut meliputi pengendara yang tidak memakai helm, melawan arus lalu lintas atau arah, menerobos lampu merah, menggunakan knalpot bising yang mengganggu kenyamanan, bermain HP saat berkendara, berboncengan lebih dari dua orang, hingga pengendara yang tidak membawa dokumen wajib seperti SIM dan STNK.
Guna memastikan kepatuhan tersebut, Ditlantas Polda Sumbar akan memaksimalkan pengawasan baik melalui sistem tilang elektronik (ETLE) maupun patroli langsung secara berkala. Edukasi secara digital melalui media sosial juga terus digenjot agar pesan keselamatan ini bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok daerah. Petugas di lapangan diinstruksikan untuk mengedepankan pendekatan yang humanis namun tetap tegas dalam menegakkan aturan.
Melalui program ini, Polda Sumbar berharap budaya tertib berlalu lintas dapat tertanam kuat di dalam sanubari masyarakat Sumatra Barat, bukan sekadar karena takut ditilang oleh petugas. Dengan komitmen bersama untuk menjaga ketertiban, diharapkan angka fatalitas kecelakaan di jalan raya dapat ditekan secara signifikan sehingga seluruh pengendara bisa selamat sampai ke tujuan.(nofri)