netralpost --- Progres pembangunan Jembatan Aramco di Tanah Datar telah mencapai 55 persen, menjadi akses vital penghubung dua kabupaten. Simak detail target penyelesaian dan tantangan di balik proyek ini yang krusial untuk pemulihan pascabencana.
Pembangunan jembatan aramco di Jorong Tanjung Sawah, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, menunjukkan kemajuan signifikan. Proyek infrastruktur vital ini telah mencapai 55 persen penyelesaian per Jumat, 20 Februari 2026. Keberadaan jembatan ini sangat mendesak mengingat fungsinya sebagai akses utama yang menghubungkan Kabupaten Tanah Datar dengan Kabupaten Solok melalui Danau Singkarak.
Komandan Peleton (Danton) III Kompi Senapan C Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 844 Satria Batang Hari, Letda Infanteri I Ketut Wira Tri Pradhana Yogha, menyampaikan informasi progres tersebut di Kabupaten Tanah Datar. Pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan daerah-daerah terdampak bencana banjir bandang yang melanda akhir November 2025.
Pengerjaan jembatan aramco dimulai pada 4 Februari 2026 dan diperkirakan akan rampung serta dapat dilintasi pengendara pada 3 Maret 2026. Target penyelesaian yang cepat ini menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak untuk segera memulihkan konektivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Percepatan Pembangunan dan Target Penyelesaian Jembatan Aramco di Tanah Datar
Progres pembangunan jembatan aramco di Jorong Tanjung Sawah, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, telah mencapai 55 persen. Angka ini dicapai berkat kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak yang terlibat dalam proyek vital ini. Jembatan ini sangat penting sebagai jalur penghubung utama antara Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok, melintasi jalur Danau Singkarak.
Pembangunan jembatan ini dimulai pada tanggal 4 Februari 2026, dengan target penyelesaian yang ambisius pada 3 Maret 2026. Kecepatan pengerjaan menjadi prioritas utama mengingat urgensi jembatan ini dalam memulihkan aksesibilitas pascabencana. Jembatan ini akan kembali menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas warga di kedua kabupaten.
TNI bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus bersinergi untuk mempercepat pemulihan infrastruktur di daerah terdampak bencana. Upaya ini difokuskan pada Nagari Padang Laweh, Kecamatan Batipuh Selatan, yang mengalami dampak parah akibat banjir bandang pada akhir November 2025. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengembalikan kondisi normal secepatnya bagi masyarakat setempat.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam pembangunan jembatan aramco adalah kondisi cuaca yang tidak menentu. Letda I Ketut Wira menjelaskan bahwa hujan deras dan angin kencang masih sering terjadi di sekitar lokasi proyek, terutama di pinggiran Danau Singkarak. Kondisi ini menimbulkan risiko signifikan bagi keselamatan personel yang bekerja di lapangan.
Selain faktor cuaca, potensi ancaman banjir susulan juga menjadi perhatian serius. Aliran bekas banjir bandang dari sisi atas masih sangat rawan, dipenuhi dengan batu-batuan besar yang dapat terbawa arus jika terjadi hujan deras. Situasi ini memerlukan kewaspadaan tinggi dan langkah-langkah mitigasi risiko yang ketat untuk memastikan keamanan seluruh tim.
Mengingat medan yang menantang dan cuaca buruk yang sering melanda, faktor keamanan menjadi prioritas utama. “Intinya kami jaga faktor keamanan mengingat medan di sekitar sini sering terjadi cuaca buruk,” tegas Letda I Ketut Wira. Protokol keselamatan kerja diterapkan secara ketat untuk melindungi para pekerja dari potensi bahaya di lokasi pembangunan.
Kolaborasi Multi Pihak untuk Jembatan Vital Tanah Datar
Pengerjaan pembangunan jembatan aramco ini melibatkan kolaborasi dari berbagai elemen, termasuk empat kesatuan TNI. Satuan-satuan tersebut adalah personel Kodim 0307 Tanah Datar, Detasemen Zeni Tempur 2/Prasada Sakti, Yonif 131 Braja Sakti, dan Yonif Teritorial Pembangunan 844 Satria Batang Hari. Keterlibatan TNI menunjukkan komitmen negara dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur pascabencana.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah, PT Adhi Karya, dan pemerintah nagari yang turut mengerahkan berbagai alat berat. Sinergi antara unsur militer, pemerintah, dan sektor swasta ini membuktikan efektivitas pendekatan pentahelix dalam penanganan bencana dan pembangunan kembali.
Kolaborasi yang kuat ini diharapkan dapat mempercepat proses pengerjaan jembatan aramco. Keberadaan jembatan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk memulihkan aktivitas ekonomi, sosial, dan mobilitas yang sempat terganggu akibat bencana banjir bandang. Dengan rampungnya jembatan ini, diharapkan kehidupan masyarakat dapat kembali normal dengan lebih cepat.
Sumber: AntaraNews


Post a Comment