Netralpost, --- Saya pendukung Argentina. Sejak lama saya jatuh cinta pada gaya bermainnya. Kekalahan Argentina di final Piala Dunia 2026 tentu mengecewakan, tetapi tidak membuat saya larut dalam kesedihan. Dalam olahraga, menang dan kalah adalah bagian dari pertandingan.
Yang justru mengubah cara pandang saya adalah seorang anak muda Spanyol bernomor punggung 19: Lamine Yamal.
Saya tidak hanya melihat kemampuannya mengolah bola. Saya melihat keberanian seorang pemuda yang tampil tanpa rasa takut di panggung terbesar sepak bola dunia. Saya melihat kerendahan hati ketika ia mengangkat tangan dan memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur. Saya juga menemukan kisah hidupnya; tentang seorang ibu yang pernah mendampingi bayi Yamal saat dipotret bersama Lionel Messi, dan tentang neneknya yang menjadi sosok penting dalam membentuk karakter serta mimpinya.
Mungkin foto Messi memandikan bayi Yamal hanyalah sebuah kebetulan. Namun, kerja keras, pendidikan keluarga, doa, dan keteguhan hati adalah pilihan yang membawanya hingga berdiri di final Piala Dunia.
Sepak bola akhirnya mengajarkan saya satu hal: jangan hanya mengagumi pemenang, tetapi pelajarilah proses yang membentuk mereka menjadi pemenang.
Pada akhirnya, sepak bola bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Sepak bola adalah tentang bagaimana kita belajar menghargai perjuangan, karakter, dan nilai-nilai kehidupan dari setiap pertandingan. Sebab kemenangan akan tercatat dalam sejarah, tetapi karakter akan selalu hidup dalam ingatan.
Penulis: Herdiyulis Sekretaris Umum KONI Kota Solok


Post a Comment