Netralpost --- Pernahkah kita melihat mahasiswa dengan IPK nyaris sempurna, aktif mengikuti perkuliahan, tetapi tidak terlalu peduli dengan persoalan yang terjadi di sekitarnya? Di sisi lain, ada pula mahasiswa yang begitu vokal berbicara tentang keadilan dan perubahan sosial, tetapi ketika diajak berdiskusi lebih mendalam, dasar keilmuannya justru belum cukup kuat.
Dua keadaan tersebut memperlihatkan persoalan yang sama: kesadaran akademik yang belum utuh. Kecerdasan intelektual dan kepekaan terhadap nilai sering kali berjalan sendiri-sendiri. Padahal, menjadi mahasiswa semestinya bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana ilmu membentuk cara berpikir, sikap, dan keberanian untuk merespons persoalan kehidupan.
Dalam konteks inilah Nilai Dasar Pergerakan (NDP) menjadi relevan untuk terus dibicarakan dan diinternalisasikan. NDP dalam tradisi PMII tidak semestinya berhenti sebagai materi yang dipelajari dalam forum kaderisasi. Ia dapat menjadi kerangka nilai untuk melihat bagaimana seorang mahasiswa seharusnya membangun hubungan antara ilmu, nilai, dan realitas sosial.
Dari Mengejar Nilai Menuju Membangun Kesadaran
Kehidupan akademik sering kali tanpa sadar direduksi menjadi persoalan nilai: mendapatkan IPK tinggi, menyelesaikan tugas, mengikuti ujian, kemudian memperoleh ijazah. Semua itu tentu penting, tetapi pendidikan tidak berhenti pada capaian administratif tersebut.
Mahasiswa seharusnya memiliki kemampuan untuk bertanya: Untuk apa ilmu yang saya pelajari? Kepada siapa ilmu tersebut bermanfaat? Dan bagaimana ilmu itu dapat digunakan untuk membaca persoalan yang ada di sekitar saya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada pemahaman bahwa kesadaran akademik bukan sekadar kemampuan menguasai materi perkuliahan. Kesadaran akademik juga mencakup kemampuan berpikir kritis, membaca realitas, mempertanggungjawabkan pengetahuan, serta menghubungkan ilmu dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi orang yang tahu, tetapi juga mampu memahami mengapa sesuatu perlu diketahui dan untuk apa pengetahuan tersebut digunakan.
Kerangka Refleksi: Akademik Harus Melatih Cara Berpikir
NDP mengenalkan pentingnya kerangka refleksi dalam membangun cara pandang. Dalam konteks akademik, refleksi dapat dimaknai sebagai proses untuk terus mempertanyakan, menguji, dan memperdalam pengetahuan yang dimiliki.
Ruang kuliah seharusnya tidak hanya menjadi tempat menerima informasi dari dosen. Ia juga harus menjadi ruang untuk menguji gagasan, membandingkan perspektif, membaca penelitian, berdiskusi, dan membangun argumentasi.
Mahasiswa yang memiliki kesadaran akademik tidak mudah menerima sebuah pendapat hanya karena disampaikan oleh seseorang yang dianggap lebih tahu. Ia belajar mencari dasar argumentasi, melihat konteks, mempertimbangkan perspektif yang berbeda, dan bersedia mengoreksi pemikirannya ketika menemukan informasi atau argumen yang lebih kuat.
Di sinilah tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan melakukan penelitian menjadi penting. Aktivitas tersebut bukan sekadar tuntutan akademik, tetapi bagian dari proses membentuk manusia yang mampu berpikir secara bertanggung jawab.
Kerangka Aksi: Ilmu Tidak Boleh Berhenti di Ruang Diskusi
Namun, berpikir kritis saja belum cukup.
Pengetahuan yang hanya berhenti dalam diskusi, tulisan, atau ruang kelas akan kehilangan sebagian dari maknanya ketika tidak memiliki hubungan dengan realitas. Karena itu, kerangka aksi menjadi penting untuk memastikan bahwa hasil refleksi memiliki keberlanjutan dalam tindakan.
Seorang mahasiswa dapat memulai dari hal-hal sederhana. Pengetahuan yang diperoleh melalui perkuliahan dapat dikembangkan menjadi penelitian kecil, kegiatan pengabdian, edukasi masyarakat, literasi, advokasi berbasis data, maupun berbagai bentuk kontribusi lain yang sesuai dengan bidang keilmuannya.
Misalnya, mahasiswa yang mempelajari psikologi tidak cukup hanya memahami teori tentang perilaku manusia. Ia juga dapat belajar membaca persoalan psikologis yang muncul di lingkungan sosial dan mengembangkan kegiatan edukasi yang sesuai dengan kapasitas keilmuannya.
Begitu pula mahasiswa dari bidang lain. Ilmu ekonomi dapat digunakan untuk membaca persoalan ekonomi masyarakat, ilmu komunikasi dapat digunakan untuk membangun literasi informasi, ilmu pendidikan dapat diterapkan dalam kegiatan pendampingan belajar, dan berbagai bidang keilmuan lainnya dapat menemukan bentuk pengabdiannya masing-masing.
Dengan demikian, aksi tidak harus selalu dimaknai sebagai gerakan besar. Aksi dapat dimulai dari kemampuan menghubungkan apa yang dipelajari dengan apa yang dibutuhkan oleh lingkungan sekitar.
Kerangka Ideologis: Menyatukan Pikiran, Nilai, dan Tindakan
Di antara refleksi dan aksi terdapat persoalan yang tidak kalah penting: nilai apa yang menjadi dasar dari keduanya?
Di sinilah kerangka ideologis memiliki posisi penting. Pengetahuan membutuhkan arah, sementara tindakan membutuhkan landasan. Tanpa nilai yang jelas, kecerdasan dapat kehilangan orientasi dan aktivitas sosial dapat berubah menjadi sekadar aktivitas tanpa refleksi yang mendalam.
Seorang mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menjelaskan konsep keadilan, tetapi juga perlu membangun kepekaan terhadap persoalan ketidakadilan yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, keberanian untuk bersuara juga perlu disertai kemampuan memahami persoalan secara mendalam agar sikap yang diambil tidak sekadar berdasarkan emosi atau mengikuti arus.
Dengan kata lain, refleksi memberikan kedalaman berpikir, aksi memberikan pengalaman nyata, sedangkan nilai memberikan arah.
Ketiganya perlu berjalan beriringan agar kesadaran akademik tidak terjebak pada salah satu sisi saja.
Tiga Relasi sebagai Kompas Kesadaran Akademik
Kesadaran akademik dalam perspektif NDP juga tidak dapat dilepaskan dari relasi manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Relasi dengan Tuhan memberikan dimensi nilai dan tanggung jawab bahwa ilmu tidak semata-mata digunakan untuk kepentingan pribadi. Relasi dengan manusia mengingatkan bahwa ilmu memiliki dimensi sosial dan dapat menjadi sarana untuk memberikan manfaat kepada sesama. Sementara relasi dengan alam mengajarkan bahwa manusia juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Ketiga relasi tersebut dapat menjadi kompas dalam menentukan bagaimana ilmu dipelajari dan digunakan.
Artinya, mahasiswa tidak hanya bertanya, “Apakah saya mampu?”, tetapi juga “Apakah yang saya lakukan bernilai dan memberikan manfaat?”
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah, sementara semangat bergerak tanpa pengetahuan dapat kehilangan dasar.
Dari Internalisasi Menuju Aksi Nyata
Karena itu, internalisasi NDP tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menghafal konsep atau menjelaskan istilah dalam forum kaderisasi. Internalisasi baru memiliki makna ketika nilai tersebut mulai memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak.
Dalam kehidupan akademik, internalisasi tersebut dapat diwujudkan melalui kebiasaan membaca secara kritis, membangun budaya diskusi, melakukan penelitian, menulis berdasarkan data, terlibat dalam pengabdian masyarakat, serta menggunakan keilmuan untuk membaca dan merespons persoalan sosial.
Bahkan, kegiatan sederhana seperti membuat forum diskusi mahasiswa mengenai persoalan di lingkungan sekitar, melakukan penelitian kecil, menyusun kajian berdasarkan data, atau membuat program edukasi masyarakat dapat menjadi bentuk awal dari upaya menghubungkan NDP dengan kehidupan akademik.
Dengan demikian, RTL tidak berhenti sebagai kewajiban setelah sebuah proses kaderisasi selesai. Ia dapat menjadi momentum untuk menerjemahkan nilai yang telah dipelajari menjadi aktivitas yang terukur dan memberikan manfaat.
Kampus sebagai Ruang Pembentukan Manusia
Pada akhirnya, kampus seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang mampu memperoleh nilai tinggi di atas kertas. Kampus juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk manusia yang mampu berpikir, merasakan, dan bertindak secara bertanggung jawab.
Mahasiswa yang ideal bukan hanya mahasiswa yang pintar menjawab soal, tetapi juga mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Bukan hanya mampu berbicara tentang perubahan, tetapi juga mau memahami persoalan sebelum mengambil sikap. Bukan hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Di sinilah NDP dapat ditempatkan sebagai cara pandang yang hidup. Bukan sekadar materi yang selesai setelah forum kaderisasi, melainkan nilai yang terus diuji dalam ruang kuliah, ruang organisasi, ruang penelitian, dan ruang kehidupan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, pintar saja tidak cukup. Ilmu membutuhkan kesadaran, kesadaran membutuhkan nilai, dan nilai membutuhkan keberanian untuk diwujudkan dalam tindakan.
Jika mahasiswa mampu mempertemukan ketiganya, maka pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah dan IPK, tetapi manusia yang memiliki pengetahuan, kepekaan, tanggung jawab, dan keberanian untuk memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
(Penulis:Rohmatul Ummah, Peserta PKL PC PMII Kota Padang)


Post a Comment