Sumatera Barat, netralpost --- Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat resmi mengumumkan rencana pengalihan arus lalu lintas di kawasan Jembatan Jeruai. Langkah strategis ini diambil sehubungan dengan dimulainya proyek penting berupa Rehabilitasi Jembatan Jeruai yang terletak pada Ruas Jalan Bukit Putus hingga Batas Kota Padang KM 18+400. Pengerjaan fisik dan pengalihan jalur ini dijadwalkan bakal berlaku aktif mulai hari Senin, 29 Juni 2026 mendatang.
Guna menjaga kelancaran mobilitas masyarakat dan pasokan logistik selama proyek berlangsung, pihak BPJN Sumbar telah menyiapkan infrastruktur cadangan berupa Jembatan Sementara atau Jembatan Bailey. Seluruh kendaraan yang biasa melintasi area utama akan dialihkan sepenuhnya ke jembatan darurat tersebut. Upaya ini dilakukan agar interkoneksi antarwilayah tetap terjaga dengan baik tanpa mengorbankan jalannya proyek konstruksi.
Keamanan struktur jembatan darurat tersebut dipastikan telah melewati rangkaian pengujian ketat sebelum dibuka untuk umum. Pihak berwenang tercatat sudah melaksanakan uji kelayakan sebanyak dua kali, yakni pada tanggal 8 Juni 2026 dan disusul pada tanggal 19 Juni 2026. Berdasarkan hasil evaluasi teknis yang komprehensif, Jembatan Bailey ini dinyatakan sepenuhnya aman dan layak untuk dilalui kendaraan.
Kendati dinyatakan aman, jembatan sementara ini memiliki keterbatasan kapasitas tonase yang wajib dipatuhi oleh para pengendara, khususnya angkutan barang. BPJN Sumatera Barat menetapkan aturan tegas bahwa batas berat kendaraan yang diperbolehkan melintas di atas Jembatan Bailey adalah maksimal 25 ton. Pembatasan ketat ini diberlakukan demi menjaga ketahanan jembatan darurat agar tidak mengalami kerusakan prematur selama masa rehabilitasi jembatan utama.
Sehubungan dengan perubahan pola lalu lintas ini, pihak BPJN menyampaikan imbauan mendalam kepada seluruh lapisan masyarakat dan pengguna jalan yang akan melintas. Pengendara sangat diminta untuk selalu disiplin mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang terpasang, menghormati batas tonase kendaraan, serta mengikuti setiap arahan dari petugas yang bersiaga di lapangan. Kesadaran kolektif ini dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan, keamanan, serta kelancaran arus kendaraan.
Pihak penyelenggara proyek juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada publik atas ketidaknyamanan perjalanan yang mungkin timbul selama proses perbaikan berlangsung. BPJN Sumbar sangat mengapresiasi pengertian sekaligus kerja sama yang baik dari seluruh pengguna jalan demi terwujudnya infrastruktur jembatan yang lebih kokoh dan mantap di masa depan.(nofri tanjung)


Post a Comment