AGAM, NETRALPOST — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus berkomitmen meningkatkan infrastruktur wilayah demi mendukung mobilitas masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Sebagai bentuk keseriusan tersebut, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, melakukan kunjungan lapangan langsung ke ruas jalan Manggopoh – Padang Luar di Kabupaten Agam pada Senin (15/6/2026). Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan pekerjaan berjalan optimal tanpa kendala di lapangan.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur didampingi oleh Kepala Bidang Bina Marga Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Sumatera Barat, Elfiandi Ibrahim, ST, MT. Kehadiran jajaran dinas teknis ini untuk mengawal langsung kualitas pengerjaan dan melihat kesesuaian progres di lapangan dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Langkah proaktif ini diambil agar infrastruktur yang dibangun benar-benar andal, aman, dan memiliki ketahanan jangka panjang.
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, menegaskan bahwa perbaikan konektivitas antardaerah merupakan prioritas utama pemerintah daerah untuk memangkas biaya logistik masyarakat. "Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menaruh perhatian penuh terhadap pembangunan infrastruktur jalan ini. Kami ingin memastikan pengerjaannya berjalan dengan baik dan tepat waktu agar manfaat nyata dari pemerataan pembangunan ini bisa segera dirasakan langsung oleh masyarakat Kabupaten Agam dan sekitarnya," ujar Vasko di sela-sela peninjauannya.
Senada dengan hal itu, Kepala Dinas BMCKTR Provinsi Sumatera Barat melalui Kepala Bidang Bina Marga, Elfiandi Ibrahim, menyatakan komitmen penuh instansinya dalam mengawasi jalannya proyek ini agar sesuai dengan spesifikasi teknis. "Kami di Dinas BMCKTR Sumbar akan terus berupaya menghadirkan infrastruktur jalan yang andal, aman, dan berkelanjutan. Pengawasan ketat terus dilakukan agar seluruh aspek teknis terpenuhi dengan baik demi mendukung mobilitas harian masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi di koridor strategis ini," pungkas Elfiandi.
Berdasarkan data teknis di lapangan, pelaksanaan proyek jalan di ruas strategis ini dipercayakan kepada kontraktor pelaksana PT Anugrah Karya Bersama Persada. Guna memastikan transparansi dan akuntabilitas pengerjaan, seluruh jalannya proyek diawasi secara ketat oleh PT Andalas Raya Consulindo yang bertindak sebagai konsultan pengawas profesional. Sinergi antara kontraktor berpengalaman dan pengawas independen ini diharapkan mampu menghasilkan kualitas aspal dan badan jalan yang kokoh.
Kunjungan lapangan ini merefleksikan keseriusan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam membangun konektivitas, memperkuat pelayanan publik, serta mewujudkan Sumatera Barat yang semakin maju dan berdaya saing. Dengan tuntasnya pengerjaan ruas jalan Manggopoh – Padang Luar ini, diharapkan jalur distribusi barang dan urat nadi perekonomian masyarakat di wilayah Kabupaten Agam dapat melesat lebih cepat.(Nofri Tanjung)
Tuapejat, netralpost – Program Rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Bapak Robert S. di Dusun Karoniet, Desa Tuapejat, telah selesai dikerjakan. Saat ini, personel Satgas Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai melaksanakan pembersihan di sekitar rumah agar lingkungan menjadi lebih bersih, rapi, dan nyaman ditempati.
Dandim 0319/Mentawai, Letkol Inf Bambang Budi Hartanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian TNI AD dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan hunian yang layak.
Bapak Robert S. mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia beserta jajaran, khususnya kepada Satgas Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat yang telah membantu merehabilitasi rumahnya.
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Presiden serta seluruh jajaran TNI AD. Kini rumah kami sudah layak huni dan lingkungan pun bersih serta nyaman," ujar Bapak Robert S.
Dengan selesainya RTLH tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat di Kabupaten Kepulauan Mentawai. (*)
Padang, netralpost --- PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat menyiapkan sebanyak 7.792 tempat duduk kereta api lokal untuk melayani kebutuhan perjalanan masyarakat saat libur Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448 H pada 16 Juni 2026.
Penyediaan kapasitas tersebut merupakan bagian dari komitmen KAI dalam memastikan layanan transportasi tetap optimal selama masa libur, ketika mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat untuk berbagai keperluan, seperti berwisata, bersilaturahmi, maupun melakukan perjalanan bersama keluarga.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab mengatakan bahwa KAI terus berupaya menghadirkan layanan transportasi yang mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan ketepatan waktu sehingga masyarakat dapat bepergian dengan lebih tenang.
“Pada libur Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448 H, kami memastikan seluruh layanan operasional berjalan dengan baik agar pelanggan dapat menikmati perjalanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu. Kereta api juga menjadi pilihan transportasi yang semakin diminati karena praktis, ekonomis, serta mampu menghindarkan pelanggan dari kemacetan di jalan raya,” ujar Reza.
Saat libur tersebut, KAI Divre II Sumbar mengoperasikan tiga layanan kereta api lokal, yakni KA Minangkabau Ekspres relasi Pulau Aie–Bandara Internasional Minangkabau (BIM), KA Pariaman Ekspres relasi Pauhlima–Naras, dan KA Lembah Anai relasi Kayu Tanam–Padang.
KA Pariaman Ekspres tetap menjadi salah satu layanan favorit masyarakat dengan 10 perjalanan setiap hari. Kereta ini memberikan akses yang mudah menuju kawasan wisata Pantai Gandoriah Pariaman dengan tarif yang terjangkau, yaitu Rp5.000, sehingga menjadi alternatif perjalanan yang nyaman selama masa liburan.
Sementara itu, KA Minangkabau Ekspres melayani 12 perjalanan setiap hari sebagai penghubung Bandara Internasional Minangkabau dengan pusat Kota Padang. Selain melayani masyarakat umum, kereta ini juga banyak dimanfaatkan oleh rombongan pelajar maupun wisatawan melalui layanan pemesanan tiket rombongan.
Adapun KA Lembah Anai beroperasi enam kali perjalanan setiap hari pada relasi Kayu Tanam–Padang. Selama perjalanan, pelanggan dapat menikmati keindahan panorama alam Sumatera Barat yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri, mulai dari perbukitan, aliran sungai, hingga suasana pedesaan yang asri.
“Kehadiran layanan kereta api lokal di Sumatera Barat tidak hanya mendukung mobilitas masyarakat, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan sektor pariwisata, pertumbuhan ekonomi daerah, dan penggunaan transportasi yang lebih ramah lingkungan,” tambah Reza.
Untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan, tiket kereta api lokal dapat dipesan melalui aplikasi Access by KAI dengan sistem penjualan yang dibuka secara bertahap mulai H-7 sebelum keberangkatan.
Reza juga mengingatkan masyarakat agar selalu membeli tiket melalui kanal resmi KAI untuk menghindari potensi penipuan.
“Kami mengajak masyarakat melakukan pembelian tiket melalui aplikasi Access by KAI maupun kanal resmi lainnya yang bekerja sama dengan KAI. Saat ini tiket masih tersedia sehingga pelanggan dapat merencanakan perjalanan dengan lebih mudah, aman, dan nyaman,” jelas Reza.
KAI Divre II Sumbar terus menjaga keandalan operasional agar jadwal keberangkatan maupun kedatangan kereta tetap sesuai rencana, sehingga pelanggan dapat menikmati perjalanan yang tertib, aman, dan menyenangkan.
“Kami akan terus meningkatkan kualitas pelayanan, baik dari aspek keselamatan, kenyamanan, maupun ketepatan waktu. Selain itu, KAI juga akan menyesuaikan kapasitas dan pola operasional sesuai kebutuhan masyarakat, terutama pada periode dengan permintaan perjalanan yang tinggi seperti hari besar keagamaan,” tutup Reza.(*)
Dharmasraya, netralpost – Sekretaris Daerah Kabupaten Dharmasraya, Medison, meminta seluruh wasit yang bertugas pada Dharmasraya Champions League (DCL) 2026 untuk memimpin pertandingan secara adil, profesional, dan menjunjung tinggi integritas.
Pesan tersebut disampaikan Medison saat mengunjungi briefing akhir persiapan wasit menjelang kick off DCL 2026 di Sport Center Dharmasraya yang akan dilaksanakan Sabtu (6/6/2026) yang akan datang. Pada kesempatan itu, ia memberikan arahan langsung kepada seluruh perangkat pertandingan yang akan bertugas selama kompetisi berlangsung.
“Kami menyampaikan pesan Ibu Bupati, yang mana beliau meminta rekan-rekan wasit untuk memimpin seluruh pertandingan dengan adil. Keputusan yang diambil di lapangan harus benar-benar berdasarkan aturan permainan dan menjunjung tinggi sportivitas. Integritas sangat diperlukan karena setiap pertandingan akan disaksikan oleh ribuan pasang mata,” ujar Medison.
Menurutnya, Kompetisi Program Unggulan Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani dan Wabup Leli Arni itu merupakan penyelenggaraan perdana yang diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pelaksanaan kompetisi yang berkelanjutan di masa mendatang.
“DCL 2026 merupakan penyelenggaraan pertama. Kami berharap tidak ada persoalan dalam penyelenggaraan, termasuk dari kepemimpinan wasit dalam memimpin pertandingan. Karena itu, suksesnya penyelenggaraan dan pertandingan menjadi sangat penting. Jika kompetisi ini berjalan baik, DCL akan dapat menjadi kalender tahunan dan tumbuh menjadi ikon event olahraga Kabupaten Dharmasraya,” katanya.
Medison menegaskan bahwa salah satu kunci keberhasilan kompetisi berada di tangan perangkat pertandingan, terutama wasit yang dipercaya memimpin jalannya pertandingan di lapangan.
“Di dalam lapangan, pertandingan dipercayakan kepada wasit. Kami yakin dengan pengalaman dan profesionalisme yang dimiliki rekan-rekan wasit. Karena itu kami titip untuk menyukseskan DCL 2026. Sukses kepanitiaan, sukses pertandingan, dan sukses perwasitan. Jika ada kendala atau persoalan selama menjalankan tugas, segera laporkan kepada kami,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Bidang Perwasitan Askab PSSI Dharmasraya, Septa Saiman, mengatakan sebanyak 36 wasit terbaik telah disiapkan untuk memimpin pertandingan selama kompetisi berlangsung.
“Kami akan bersikap netral dan profesional dalam menjalankan tugas. Dari 36 wasit yang disiapkan, terdapat 2 wasit berlisensi C1 Nasional, 10 wasit berlisensi C2, dan sisanya berlisensi C3. Mereka memiliki pengalaman memimpin pertandingan Liga 2, Liga 3, Liga 4 hingga berbagai turnamen antarkampung (tarkam). Semuanya memiliki lisensi resmi dan diakui,” ujar Septa.
Menurutnya, setiap wasit yang ditugaskan dipastikan berada dalam kondisi prima, baik secara fisik, kesehatan maupun mental. Selain itu, penugasan wasit dilakukan dengan memperhatikan prinsip independensi dan keadilan.
“Kami memastikan wasit yang bertugas tidak memiliki keterkaitan emosional maupun kewilayahan dengan tim yang bertanding. Dengan demikian, keputusan yang diambil dapat berlangsung objektif dan menjunjung tinggi sportivitas. Sebelum bertugas, setiap wasit juga dipastikan dalam kondisi fit secara fisik, sehat, dan siap secara mental,” katanya.(*)
Padang, netralpost --- Stasiun Indarung bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan saksi perjalanan panjang perkembangan industri dan perkeretaapian di Indonesia. Dibangun pada tahun 1911 untuk mendukung distribusi hasil produksi PT Semen Padang sebagai pabrik semen pertama di Asia Tenggara, stasiun ini sejak awal berperan sebagai simpul utama pengangkutan semen dari kawasan industri Indarung menuju Pelabuhan Teluk Bayur melalui jalur rel sepanjang 19 kilometer.
Selama lebih dari satu abad, Stasiun Indarung terus mempertahankan perannya sebagai infrastruktur strategis yang menghubungkan kawasan produksi dengan pelabuhan. Sejak masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan, stasiun ini menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran distribusi logistik nasional. Di tengah berbagai dinamika perkembangan zaman, bangunan berarsitektur kolonial tersebut tetap berdiri kokoh dengan mempertahankan nilai historisnya, sekaligus beradaptasi melalui modernisasi sarana dan sistem operasional perkeretaapian.
Kini, Stasiun Indarung tidak hanya menjadi simbol sejarah perkeretaapian di Sumatera Barat, tetapi juga berperan sebagai salah satu simpul penting dalam ekosistem logistik nasional. Melalui layanan angkutan barang berbasis rel, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat menghadirkan solusi logistik end-to-end yang efisien, aman, andal, terintegrasi, dan berkelanjutan guna mendukung kelancaran distribusi komoditas strategis nasional serta meningkatkan daya saing industri Indonesia.
Salah satu layanan unggulan yang beroperasi dari Stasiun Indarung adalah KA Karang Putiah yang melayani angkutan semen dan klinker dari kawasan industri PT Semen Padang menuju fasilitas distribusi yang terhubung dengan Pelabuhan Teluk Bayur. Setiap perjalanan KA Karang Putiah memiliki kapasitas angkut hingga 600 ton, sehingga mampu mengangkut komoditas dalam volume besar secara lebih efisien, tepat waktu, aman, serta ramah lingkungan dibandingkan moda transportasi jalan raya.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat Reza Shahab, mengatakan bahwa Stasiun Indarung tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas operasional, tetapi juga merupakan bagian dari sejarah panjang pembangunan industri nasional.
“Stasiun Indarung memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena sejak awal keberadaannya menjadi penghubung utama distribusi hasil produksi Semen Padang. Hingga saat ini kami terus menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai historis dengan peningkatan kualitas pelayanan operasional agar stasiun ini tetap memberikan manfaat bagi industri, pelanggan, maupun masyarakat,” ujarnya.
Menurut Reza, berbagai upaya revitalisasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas infrastruktur dan pelayanan, tetapi juga memastikan nilai sejarah bangunan tetap terpelihara sebagai bagian dari identitas perkeretaapian nasional.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa bangunan bersejarah tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat terus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan saat ini. Melalui pengembangan layanan logistik berbasis rel, Stasiun Indarung terus berkontribusi dalam mendukung kelancaran distribusi komoditas nasional sekaligus menjadi warisan yang tetap hidup dan relevan mengikuti perkembangan zaman,” tambahnya.
Selain menjalankan fungsi operasional, Stasiun Indarung juga memiliki nilai sosial, budaya, dan edukatif bagi masyarakat. Keberadaannya telah menjadi bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat sekitar serta berpotensi mendukung pengembangan wisata sejarah dan wisata industri yang memperkenalkan perjalanan panjang perkeretaapian dan industri semen di Sumatera Barat kepada generasi muda.
Sebagai perusahaan transportasi nasional, KAI terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung Sistem Logistik Nasional melalui pengembangan layanan angkutan barang berbasis rel yang terintegrasi dengan kawasan industri, pelabuhan, dan moda transportasi lainnya. Pemanfaatan teknologi digital dalam operasional logistik juga terus dikembangkan guna meningkatkan keandalan layanan, transparansi proses distribusi, serta efisiensi operasional.
Melalui optimalisasi layanan logistik berbasis rel, KAI berkomitmen untuk terus mendukung kelancaran distribusi komoditas unggulan nasional, menekan biaya logistik, mengurangi emisi karbon melalui penggunaan transportasi massal yang lebih ramah lingkungan, serta memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun internasional.
Lebih dari satu abad sejak mulai beroperasi, Stasiun Indarung membuktikan bahwa warisan sejarah dapat terus memberikan nilai tambah bagi pembangunan. Dari sebuah stasiun yang lahir untuk mendukung industri semen nasional, kini Stasiun Indarung bertransformasi menjadi simpul logistik modern yang menghubungkan sejarah, industri, dan masa depan, sekaligus mempertegas komitmen KAI dalam menghadirkan layanan logistik end-to-end yang efisien, aman, terintegrasi, dan berkelanjutan bagi Indonesia.(*)
Padang, netralpost --- Sebagai bentuk komitmen dalam menjamin keselamatan operasional kereta api serta mengantisipasi potensi gangguan perjalanan menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat pada masa libur sekolah, KAI Divre II Sumbar melaksanakan kegiatan cek lintas menggunakan lori dresin di petak jalan Stasiun Padang–Naras, Kamis (11/6).
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala KAI Divre II Sumbar, Lutfi Wijaya dan diikuti oleh jajaran manajemen dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kesiapan operasional dan kondisi prasarana perkeretaapian, meliputi rel, bantalan, ballast, wesel, sistem persinyalan, keamanan emplasemen, aset perusahaan, kondisi perlintasan sebidang, hingga sistem drainase pada titik-titik yang berpotensi terdampak banjir.
Selain pemeriksaan lintas, manajemen juga melakukan pemantauan kesiapan operasional di sejumlah stasiun, yaitu Stasiun Tabing, Stasiun Duku, Stasiun Lubuk Alung, Stasiun Pariaman, dan Stasiun Naras guna memastikan seluruh sarana dan prasarana siap mendukung perjalanan kereta api yang aman, selamat, dan andal.
Kepala KAI Divre II Sumbar, Lutfi Wijaya dalam arahannya saat safety briefing di Stasiun Padang sebelum kegiatan dimulai, menegaskan bahwa budaya keselamatan (safety culture) harus menjadi prioritas utama bagi seluruh insan KAI dalam menjalankan operasional. Ia menginstruksikan seluruh jajaran agar meningkatkan kewaspadaan, disiplin dalam menjalankan prosedur, proaktif mengidentifikasi potensi risiko, serta segera menindaklanjuti setiap temuan di lapangan melalui pengisian formulir Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR), khususnya pada wilayah yang memiliki potensi gangguan akibat kondisi alam dan cuaca ekstrem.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab menjelaskan bahwa cek lintas merupakan program rutin yang dilaksanakan secara berkala dan tidak hanya dilakukan menjelang masa libur sekolah. Kegiatan ini bertujuan memastikan seluruh prasarana berada dalam kondisi andal, mengidentifikasi potensi bahaya sejak dini, serta melakukan langkah mitigasi risiko guna menjaga keselamatan dan kelancaran operasional perjalanan kereta api.
“Melalui pemeriksaan langsung di lapangan, kami memastikan setiap aspek prasarana berada dalam kondisi siap operasi sehingga perjalanan kereta api dapat berlangsung dengan selamat, aman, dan nyaman bagi seluruh pelanggan,” ujar Reza.
Pada kesempatan yang sama, KAI Divre II Sumbar juga melaksanakan sosialisasi keselamatan kepada masyarakat di sekitar jalur kereta api dan perlintasan sebidang. Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya disiplin berlalu lintas demi mencegah terjadinya kecelakaan di perlintasan.
Reza mengungkapkan bahwa setiap harinya KAI Divre II Sumbar mengoperasikan 28 perjalanan kereta api penumpang dan 24 perjalanan kereta api barang yang mengangkut klinker dan semen. Dengan tingginya frekuensi perjalanan tersebut, masyarakat diminta untuk selalu berhenti, melihat ke kanan dan kiri, serta memastikan tidak ada kereta api yang akan melintas sebelum melewati perlintasan.
“Kami mengimbau seluruh pengguna jalan agar selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan mengutamakan perjalanan kereta api saat melintasi perlintasan sebidang. Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama,” kata Reza.
Ia menambahkan bahwa tindakan menerobos palang pintu, mengabaikan semboyan 35 (isyarat suara/klakson lokomotif), maupun melanggar rambu-rambu lalu lintas di perlintasan sebidang merupakan pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Selain membahayakan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya, pelanggaran tersebut juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum, termasuk tuntutan ganti rugi apabila mengakibatkan kecelakaan atau gangguan operasional kereta api.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pelaksanaan safety talk sebagai forum evaluasi hasil pemeriksaan lintas sekaligus memastikan seluruh temuan di lapangan segera ditindaklanjuti sesuai standar keselamatan yang berlaku.
“KAI Divre II Sumbar akan terus mengedepankan upaya-upaya preventif melalui pemeriksaan operasional maupun prasarana secara berkala, penguatan budaya keselamatan, serta edukasi kepada masyarakat. Sinergi seluruh pihak menjadi kunci untuk mewujudkan perjalanan kereta api yang selamat, aman, lancar, dan nyaman bagi seluruh pelanggan maupun pengguna jalan,” tutup Reza.(*)
Padang, netralpost - Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Sumatera Barat masa khidmat 2026-2028 resmi dilantik dalam sebuah prosesi yang berlangsung khidmat di Padang Youth Center, Kota Padang (8/6). Pelantikan tersebut menjadi penanda dimulainya kepemimpinan baru PKC PMII Sumbar yang mengusung semangat kolaborasi, penguatan kaderisasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebanyak 50 orang pengurus yang berasal dari tujuh cabang PMII se-Sumatera Barat dilantik dan diambil sumpahnya. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Umum PB PMII, M. Shofiyulloh Cokro, yang turut didampingi sejumlah pengurus pusat, dan tokoh alumni. Kehadiran para kader dari berbagai daerah di Sumbar menambah semarak sekaligus mempertegas komitmen bersama dalam membangun organisasi yang lebih progresif.
Ketua PKC PMII Sumbar, M. Yusuf Rahman, menegaskan bahwa pelantikan bukanlah garis akhir dari proses kaderisasi, melainkan titik awal untuk menjalankan amanah organisasi secara lebih nyata di tengah masyarakat.
Menurut Yusuf, PMII harus mampu menghadirkan gagasan dan gerakan yang relevan dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pergerakan yang selama ini menjadi fondasi organisasi.
"Momentum ini adalah awal dari kerja-kerja kolektif yang harus dijalankan dengan penuh tanggungjawab. PMII Sumbar harus hadir sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis dalam menjawab berbagai persoalan sosial, pendidikan dan kebangsaan," ujar Yusuf dalam sambutannya.
Yusuf juga menekankan pentingnya membangun sinergi antar cabang serta memperkuat kualitas kader agar mampu bersaing dan berkontribusi di berbagai sektor.
Sementara itu, Majelis Pembina Daerah (Mabinda) PMII yang diwakili oleh Sekretaris Mabinda, Defi Mulyadi menyampaikan apresiasinya terhadap semangat kader PMII yang terus berkembang di berbagai daerah di Sumatera Barat. Menurutnya, keterlibatan tujuh cabang PMII dalam pelantikan tersebut menunjukkan bahwa organisasi masih memiliki energi besar untuk terus tumbuh dan memberikan kontribusi bagi daerah.
"Pelantikan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi merupakan awal dari tanggung jawab besar untuk menggerakkan organisasi. Saya berharap kepengurusan yang baru mampu memperkuat kaderisasi, menjaga persatuan, serta menghadirkan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Sumatera Barat,” kata defi.
Ketua Umum PB PMII, M. Shofiyulloh Cokro mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini semakin kompleks. Oleh sebab itu, kader PMII dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas intelektual, memperkuat integritas moral dan menjaga tradisi intelektual yang menjadi ciri khas organisasi.
Dalam arahannya, Shofi menyampaikan bahwa keberhasilan sebuah kepengurusan tidak diukur dari banyaknya kegiatan seremonial yang dilakukan, melainkan dari sejauh mana organisasi mampu melahirkan kader yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.
"PMII harus tetap menjadi rumah kaderisasi yang melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan. Pengurus yang baru dilantik harus mampu menjaga semangat pergerakan, memperkuat cabang dan memastikan kaderisasi berjalan secara berkelanjutan," katanya.
Ia juga menilai Sumatera Barat memiliki potensi besar dalam melahirkan kader-kader berkualitas yang mampu berkiprah di tingkat nasional maupun daerah.
Senada dengan itu, Mabinas PMII, Firdaus menilai perkembangan zaman yang semakin cepat menuntut kader PMII untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang menjadi landasan gerakan organisasi.
“PMII harus tetap menjadi ruang pembelajaran yang melahirkan kader-kader yang kritis dalam berpikir, santun dalam bersikap, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Kepengurusan yang baru harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri organisasi,” ujar Firdaus.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga solidaritas dan kekompakan internal sebagai modal utama dalam menjalankan roda organisasi selama masa kepengurusan berlangsung.
Pelantikan tersebut turut dihadiri oleh pemerintah daerah, tokoh masyarakat, alumni PMII, organisasi kepemudaan. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap keberlanjutan gerakan PMII sebagai organisasi mahasiswa yang konsisten mengawal isu-isu keumatan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.
Dengan dilantiknya kepengurusan baru, PKC PMII Sumbar diharapkan mampu memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas kaderisasi, serta memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak demi menghadirkan gerakan yang lebih adaptif, inklusif dan berdampak bagi masyarakat Sumatera Barat. (Tmi)
Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute dan Ketua Umum JMSI
Netral-Jakarta-SETIAP tanggal 5 Juni, komunitas internasional memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Di tengah pusaran perubahan iklim global dan ketidakpastian lanskap politik global, peringatan ini tidak lagi sekadar menjadi ritual refleksi ekologis belaka. Bagi Indonesia, momentum ini adalah alarm sekaligus panggung strategis untuk menegaskan kembali posisi tawar menawar (bargaining power) kita di mata dunia.
Di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini, isu lingkungan hidup bukan lagi sekadar urusan domestik tentang menanam pohon atau membersihkan sungai, melainkan telah bertransformasi menjadi pilar utama "ekodiplomasi" dalam memperkuat posisi geopolitik Indonesia.
Lanskap global menempatkan krisis lingkungan, transisi energi, dan ketahanan pangan sebagai episentrum ketegangan baru antarnegara maju dan berkembang. Indonesia, dengan kekayaan biodiversitas yang melimpah, hutan tropis terluas ketiga di dunia, serta cadangan nikel terbesar di bumi, berada tepat di garis tengah pertempuran kepentingan ini.
Pemerintah Prabowo menyadari betul bahwa mengelola aset ekologis secara berdaulat adalah kunci utama agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton, melainkan menjadi penentu arah kebijakan global.
Transformasi strategis ini sejalan dengan pandangan pakar geopolitik internasional kontemporer. Nicholas Spykman, pemikir realisme geopolitik, pernah mencetuskan bahwa geografi adalah faktor konstan yang paling fundamental dalam menentukan kebijakan luar negeri suatu negara.
Dalam konteks modern, geografi tersebut tidak lagi hanya berbicara tentang batas wilayah militer atau jalur laut, melainkan tentang penguasaan atas sumber daya hijau yang menentukan keberlangsungan peradaban dunia digital dan bebas emisi.
Kebijakan luar negeri "Bebas Aktif" Indonesia kini mendapatkan napas baru yang lebih kontekstual, yaitu ketahanan nasional yang berbasis pada kemandirian sumber daya alam. Di panggung diplomasi internasional, keberanian Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan ekonominya—salah satunya lewat kebijakan hilirisasi komoditas mentah—menunjukkan bahwa kita menolak didikte oleh standar ganda negara-negara Barat yang kerap membungkus proteksionisme ekonomi mereka dengan narasi kepedulian lingkungan.
Guna mewujudkan ekosistem ekonomi yang berkeadilan dan mandiri, langkah konkret dirumuskan melalui pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai badan ekspor komoditas satu pintu.
Melalui badan ini, pemerintah memastikan bahwa setiap jengkal kekayaan alam yang keluar dari bumi Nusantara dikontrol secara ketat demi kemakmuran rakyat, bukan ditentukan oleh kemauan pasar negara lain. Kebijakan ini merupakan manifestasi nyata dari upaya mengunci nilai tambah hilirisasi agar tetap mengalir ke dalam negeri.
Pakar ekonomi pembangunan dan lingkungan hidup global, Prof. Jeffrey Sachs, dalam berbagai tesisnya mengenai pembangunan berkelanjutan, menegaskan bahwa keadilan iklim (climate justice) hanya bisa dicapai jika negara-negara pemilik megabiodiversitas diberikan kompensasi ekonomi yang adil atas kontribusi mereka menjaga paru-paru dunia. Tanpa adanya keadilan ekonomi, regulasi lingkungan internasional hanyalah bentuk baru dari imperialisme hijau (green imperialism).
Sejalan dengan itu, Indonesia secara tegas mendobrak batas-batas eksploitasi tersebut.
Jika kita membedah program aksi pemerintah saat ini, keterkaitan antara kelestarian lingkungan dan penguatan geopolitik sangat terlihat pada program ketahanan pangan dan swasembada energi, juga konservasi air. Upaya besar ini bukan sekadar respons terhadap ancaman kelaparan, melainkan sebuah strategi pertahanan mutlak dalam menghadapi ancaman disrupsi rantai pasok global akibat konflik geopolitik di berbagai belahan dunia, seperti ketegangan yang terus membayangi kawasan Timur Tengah.
Program ketahanan pangan nasional yang digalakkan pemerintah diarahkan pada konsep intensifikasi berbasis kelestarian ekologis, bukan ekosida. Swasembada pangan ditargetkan tercapai melalui optimalisasi lahan tidur dan modernisasi pertanian berbasis ekosistem pedesaan. Desa ditempatkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, di mana ketahanan pangan nasional bermula dari kemandirian komunitas lokal dalam mengelola tanah dan air mereka sendiri.
Langkah ini memperkuat teori ketahanan nasional yang menempatkan ketahanan pangan sebagai pilar utama stabilitas politik dalam negeri (internal stability). Negara yang kebutuhan pangannya bergantung pada impor akan sangat rentan terhadap infiltrasi dan tekanan politik luar negeri. Dengan membebaskan diri dari ketergantungan pangan, Indonesia mengamankan kedaulatan domestiknya dari instabilitas global.
Sektor energi menyajikan dinamika yang tidak kalah krusial. Program akselerasi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) seperti biodiesel berbasis sawit (B50 hingga B100), pemanfaatan energi geotermal, serta pengembangan tenaga surya skala besar, adalah strategi ganda. Di satu sisi, program ini berkontribusi langsung pada penurunan emisi karbon dunia; di sisi lain, ini adalah langkah pemutusan rantai ketergantungan pada fluktuasi harga minyak mentah dunia yang dikendalikan oleh kartel-kartel energi global.
Prof. Michael Klare, ahli geopolitik sumber daya, dalam bukunya Resource Wars, menyebutkan bahwa konflik abad ke-21 tidak lagi dipicu oleh ideologi murni, melainkan oleh perebutan kendali atas pasokan energi dan air bersih. Ketika Indonesia mampu mencapai swasembada energi hijau secara mandiri, negara ini secara otomatis membangun benteng pertahanan geopolitik yang sangat kokoh, melepaskan diri dari potensi gesekan suplai energi global.
Komitmen lingkungan ini juga meluas pada proteksi maritim. Sebagai negara kepulauan terbesar, wilayah laut Indonesia adalah kontributor utama blue carbon dunia melalui ekosistem mangrove dan lamun yang sangat luas. Pengawasan ketat terhadap wilayah perairan dari praktik Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing serta restorasi kawasan pesisir bukan hanya soal kelestarian ikan, melainkan juga penegasan kedaulatan teritorial di wilayah-wilayah kritis seperti Laut Natuna Utara.
Pakar hukum laut internasional, Prof. Hasjim Djalal, pernah mengingatkan bahwa kemampuan sebuah negara dalam mengelola dan menjaga ekosistem lautnya mencerminkan efektivitas kedaulatan negara tersebut di mata hukum internasional. Melalui sinkronisasi program pengamanan maritim dengan agenda konservasi laut, Indonesia mengirimkan pesan kuat kepada kekuatan-kekuatan besar dunia bahwa halaman laut kita terjaga dengan hukum dan komitmen ekologis yang absolut.
Langkah strategis pemerintah ini dibarengi pula dengan reformasi tata kelola internal.
Penegakan hukum lingkungan dan pemberantasan korupsi di sektor kehutanan serta pertambangan menjadi fokus utama. Komitmen Presiden Prabowo dalam menjaga akuntabilitas, integritas, dan transparansi anggaran—sebagaimana terlihat dari tindakan tegas terhadap penyelewengan di berbagai sektor baru-baru ini—merupakan fondasi penting agar investasi hijau internasional mempercayai Indonesia sebagai mitra yang kredibel.
Tanpa adanya tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas, diplomasi lingkungan di tingkat global akan kehilangan legitimasinya. Reputasi internasional sebuah negara dibangun dari konsistensi antara apa yang disuarakan di forum dunia dengan apa yang dieksekusi di lapangan. Penertiban izin usaha tambang yang merusak lingkungan dan audit berkala terhadap kepatuhan amdal merupakan bukti bahwa komitmen hijau ini dijalankan dengan serius.
Pada akhirnya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi cermin bagi arah baru politik luar negeri Indonesia. Kita tidak lagi datang ke forum-forum dunia seperti COP (Conference of the Parties) hanya dengan proposal memohon bantuan dana kompensasi iklim. Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo datang sebagai kekuatan geopolitik yang menawarkan solusi konkret bagi krisis bumi, sembari membawa posisi tawar yang kokoh berkat penguasaan sumber daya strategis domestik.
Kita harus optimis bahwa integrasi antara visi kelestarian lingkungan dan kalkulasi geopolitik yang matang akan membawa Indonesia melompat menjadi negara yang disegani.
Menjaga kelestarian alam Nusantara bukan lagi sekadar kewajiban moral kita terhadap anak cucu, melainkan cara paling terhormat untuk mempertahankan kedaulatan bangsa di tengah badai geostrategis dunia yang kian kompleks. Kelestarian lingkungan adalah benteng, dan kedaulatan sumber daya adalah senjatanya. [Nn]