PADANG - - Moderasi beragama sangat penting untuk
ditanamkan kepada peserta didik agar tercipta hubungan harmonis antara guru,
peserta didik, masyarakat dan lingkungan sekitar. Sehingga tercipta lingkungan
yang damai, nyaman dan aman dari berbagai ancaman.
Hal ini ditekankan Kepala Kantor Wilayah Kementerian
Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), H. Helmi saat
memaparkan materi dan memberikan motivasi kepada Peserta Pembinaan Aktor
Kerukunan Bagi Siswa Madrasah Aliyah, Kamis (4/11) di Mifan Water Park, Padang
Panjang.
Hadir pada kesempatan ini Kakan Kemenag Kota Padang
Panjang, H. Alizar Chan serta Kasubbag Ortala KUB, Fauqa Nuri Ichsan. Kegiatan
yang digelar Subbag Ortala KUB Kanwil Kemenag ini menghadirkan 30 Ketua OSIM
Madrasah Aliyah Negeri se Sumatra Barat dan berlangsung selama tiga hari, Rabu
sampaiJumat tanggal 3 - 5 November 2021.
“Membangun dan menanam karakter moderasi dikalangan
siswa madrasah menjadi hal yang sangat penting. Karena ditengah modernisasi
arus informasi di dunia baik secara nyata maupun maya,siswa madrasah dihadapkan
dengan maraknya ide-ide radikal dan doktrin ekstim yang menjurus kepada
aksi-aksi terorisme,” ungkap Kakanwil.
Sebaliknya sambung Helmi yang baru dilantik dua pekan
ini, semakin berkembangnya paham sekuler dan liberal mengakibatkan kurangnya
penghargaan terhadap ajaran agama. Bahkan sudah menjurus kepada penodaan dan
penghinaan terhadap agama.
“Untuk itu wawasan moderasi khususnya Moderasi Islam
perlu digali dan dikembangkan untuk menjaga keutuhan umat Islam dan menampilkan
ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ’Alamin).
Selanjutnya Doktor Helmi menjelaskan kepada Ketua OSIM
ini bahwa, moderasi beragama merupakan proses pemahaman dan pengamalan ajaran
agama yang dilakukan secara seimbang supaya terhindar dari perbuatan ekstrem
ketika menerapkannya. Prinsip moderasi sudah terkandung dalam agama yaitu
keseimbangan serta keadilan.
“Memahami moderasi beragama harus secara tekstual
bukan kontekstual. Seperti halnya moderasi beragama di Indonesia bahwasanya yang
dimoderatkan bukan agama di Indonesia melainkan pemahaman atau cara individu
beragama yang perlu dimoderatkan,” tutur Kakanwil memberikan pemahaman.
Lebih jauh Helmi menerangkan bahwa moderasi beragama
bisa berarti komitmen kepada agama apa adanya, tanpa dikurangi atau dilebihkan.
Agama dilakukan dengan penuh komitmen, dengan mempertimbangkan hak-hak vertikal
(ubudiyah) dan hak-hak horizontal (ihsan).
“Lawan dari Moderasi Beragama adalah Radikalisme,
Ekstrimisme dan Liberalisme. Artinya seorang yang moderat dalam beragama adalah
orang yang tidak terlalu radikal dan tidak sekuler (liberal),” katanya
mengingatkan generasi milenial ini.
Tak lupa Kakanwil juga menjelaskan, tujuan pembuatan
kebijakan penguatan moderasi beragama untuk mewujudkan ketertiban dalam
masyarakat beragama. Melindungi hak-hak pemeluk agama dalam menjalankan
kebebasan beragama. ewujudkan ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan
keagamaan serta untuk mewujudkan kesejahteraan umat beragama.
Untuk lebih sempurnanya pemahaman siswa tentang
moderasi beragama, Kakanwil juga menyampaikan empat indikator moderasi
beragama. Orang dikatakan moderat jika memahami empat indikatr itu. Pertama,
komitmen kebangsaan. Mereka tidak mau merobah dasar negara ini. Kedua mempunyai
sifat toleransi atau tasamuh.
Ketiga, lanjut Helmi, tidak menyelesaikan masalah
dengan kekerasan. Dan keempat menghargai budaya dan kearifan lokal. Contohnya,
ada peringatan maulid nabi dan ada ziarah kubur kita harus menghargai. Jika
kita tidak ikut jangan mencela orang yang melaksanakan itu, pesan Kakanwil.
Terakhir, Kepala Kanwil memberikan motivasi kepada
siswa madrasah se Sumatra Barat ini untuk menjadi penggerak kerukunan bagi
teman-temannya di madrasah. Bagaimana Ketua Organisasi di madrasahnya ini bisa
menularkan sikap toleransi antar umat beragama dan intern umat beragama.
Mantan Kakan Kemenag Padang Pariaman dan Kabupaten
Solok ini, mengajak generasi milenial ini menjadi generasi emas. Untuk itu,
siswa madrasah harus memiliki tiga kriteria generasi emas, bagaimana generasi
kita menjadi generasi yang cerdas berfikir, taat dan terampil serta hatinya
berzikir, tutup Kakanwil.
Pada kesempatan itu Doktor Helmi juga menyerahkan
hadiah kepada pemenang games Outbond yang sudah berlangsung sejak pagi. Outbond
ini juga mengangkat tema kerukunan, toleransi dan kebersamaan. RinaRisna. (**)