Padang --- Fakultas Sains dan Teknologi UIN Imam Bonjol Padang bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dan Lasigo Akademia Indonesia adakan seminar sehari dengan tajuk “Halaqah Perdamaian : Belajar dari kisah korban dan mantan pelaku Terorisme” di Auditorium Mahmud Yunus kampus II UIN Imam Bonjol Padang, Rabu 29 Juni 2022.
Kegiatan seminar bertujuan untuk membangun kesadaran dan peran mahasiswa dalam mempelopori dan melestarikan perdamaian. Dilibatkannya mahasiswa dalam kegiatan ini dilandasi oleh kesadaran bahwa kerja nyata, kerja keras dan kerja kolaboratif yang melibatkan semua komponen bangsa sangat diperlukan membangun Indonesia yang damai. Kesadaran tersebut tumbuh karena karena semakin kompleksnya tantangan perdamaian di Indonesia. Mahasiswa sebagai milenial anak muda harapan bangsa, dipandang amat perlu dilibatkan dalam mempelopori dan menggerakan perdamaian di Nusantara ini. Pilihan ini merupakan langkah strategis untuk memajukan perdamaian di Indonesia.
Hadir dalam kegiatan tersebut sebanyak 150 aktifis mahaiswa dari berbagai elemen kampus merdeka di Sumatera Barat. Peserta berasal dari UIN Imam Bonjol Padang, Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Universitas PGRI Sumatera Barat, Universitas Ekasakti, Universitas Putra Indonesia (UPI) Padang; Universitas Bung Hatta. Dari luar kota Padang juga hadir mahasiswa dari UIN Syekh Jamil Jambek Bukittinggi, UIN Mahmud Yunus Batusangkar dan Univeritas Dharmas Indonesia dan lainnya.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan dan kerjasama dengan menghadirkan 4 narasumber, yaitu pelaku dan korban terorisme, Dekan Fakultas Saintek dan Ketua Yayasan AIDA. Dalam sambutannya, Wakil Rektor III UIN IB, Welhendri Azwar, M, Si, Ph.D menyampaikan bahwa kegiatan ini unik, “penyelenggara bisa mempertemukan pelaku dan korban yang sejatinya bermusuhan, dalam satu forum” kata Welhendri. Selain itu, Welhendri juga mengapresiasi kegiatan sebagai bagian dari atmosfir akademik di lingkungan UIN Imam Bonjol Padang. “Kegiatan seperti ini penting sebagai ruang dialog akademis di lingkungan UIN” pungkasnya.
Seminar yang dilakukan secara panel, dimoderatori oleh direktur Lasigo Akademia Indonesia Dr. Firdaus, M.Si. Dalam pembukaan, Firdaus mengatakan bahwa dampak terorisme di Indonesia sangat tinggi. “Untuk itu, seminar ini penting dilaksanakan” katanya. Tampil sebagai pembuka diskusi, Dekan Fakultas Saintek, Nurus Shalihin Ph.D mengatakan bahwa saat ini kita hidup dalam lingkaran teror. “setiap hari kita dihantui oleh teror, mulai dari yang paling kecil seperti kemacetan dan orang yang ugal-ugalan berkendara, hingga ancaman kekerasan. Oleh karena itu, kedamaian sangat penting diwujudkan” katanya.
Sementara itu, dari perspektif mantan pelaku Ali Fauzi mengungkapkan bahwa tidak ada manusia yang baik yang tidak luput dari salah dan khilaf dan demikian juga sebaliknya tidak ada manusia jahat yang tidak memiliki masa depan”. Lebih lanjut Ali Fauzi mengutarakan bahwa, doktrinisasi yang ia terima selama ini adalah bagaimana agar kebencian itu tertanam kuat di dalam dirinya untuk menegakkan Islam Kaffah. Doktrin inilah yang selama ini menurut beliau selalu menjadi spirit kekuatan untuk menjadi pelaku terorisme.
Lain hal dari perspektif korban Nanda Olivia Danil sebagai orang yang mengalami kekerasan terorisme pada kasus Bom Kuningan 2004. Bagi Nanda, traumatik yang dialami sangat mendalam bahkan terbesit kebencian yang sangat kuat terhadap pelaku. Baginya, kehendak yang dilakukan itu adalah kesadaran yang pelaku dapat memilih melakukan atau tidak. Sedangkan apa yang dia alami dengan korban lainnya adalah sesuatu yang tidak dapat ia hindari. kejadian itu terjadi begitu saja tanpa ada peringatan atau tahu sesuatu yang mengerikan itu terjadi. Tekanan psikologis dan traumatik semacam ini ia tanggung hingga bertahun-tahun sampai kema’afan itu perlu dibuka lagi untuk masa depan yang lebih baik.
Atas kejadian semacam ini baik kesadaran mantan pelaku maupun itikat baik korban yang memafkan, menurut Hasibullah Satrawi sebagai ketua Yayasan Aida kala itu berinisiatif untuk membuka ruang antara mantan pelaku terorisme maupun korban dapat menginspirasi kedamaian dan kecintaannya kepada generasi yang akan datang. Generasi mendatang adalah orang yang perlu dibina agar tidak mudah terpapar dengan paham maupun doktrin yang mengajak orang-orang untuk menciptakan kebencian. Karena pada prinsipnya perbuatan Jihad itu bukanlah bersandar pada keinginan pribadi melainkan melalui mahkamah Syar’iah, ungkapnya.(rls Humas UIN IB Padang)
Zulhas Jadi Menteri Perdagangan, bupati Epiyardi Asda : Kabupaten Solok dan Zulhas Punya Hubungan Dekat
Padang - Bupati Kabupaten Solok Epiyardi Asda Sangat bersyukur dan salut atas Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan dilantik jadi Menteri Perdagangan (Mendag) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggantikan posisi Muhammad Lutfi pada beberapa waktu yang lalu.
Hal itu diungkapkan oleh Bupati Kabupaten Solok Epiyardi Asda pada awak media pada saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Program Pemberatasan Korupsi Terintegrasi Se-Sumatera Barat di Auditorium Gubernur Sumatera Barat, Jalan Jenderal Sudirman No. 51 Padang, Selasa (21/06).
'' Saya sangat dekat dengan pak Zulhas dan kami sanggar intens berkomunikasi untuk kemajuan Kabupaten Solok,'' ungkapnya.
Dirinya menjelaskan,Kabupaten Solok merupakankan daerah yang kaya akan keindahan alam dan hasil alamnya, maka dari itu semua problem yang ada di Kabupaten Solok itu hanya segelintir orang yang tidak suka atas cara saya memimpin, karna saya tidak pernah memakan hak rakyat sepeserpun.
Biarkanlah orang berkata apa dan berpandangan buruk kepada saya,yang penting saya bekerja untuk masyarakat dan bertekad untuk memajukan Kabupaten Solok, tutupnya.(l0)
Bencana di Sumbar Tak Dibantu, Bupati Solok Sesalkan Gubernur Cairkan BTT Untuk Provinsi Lain
Padang, – Masih ingat dengan peristiwa bencana alam banjir dan tanah longsor di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2021 lalu. Atas peristiwa tersebut, Pemprov Sumbar memberikan bantuan senilai Rp750 juta. Dalam waktu yang bersamaan, ternyata banyak peristiwa bencana alam di Sumbar yang tidak dibantu Pemprov Sumbar.
Kebijakan Gubernur Sumbar, Mahyeldi ini disorot banyak pihak termasuk Bupati Solok Epyardi Asda. Menurutnya, pemimpin itu bertanggungjawab kepada rakyatnya, jadi gubernur mestinya urus Sumbar dulu, baru daerah lain.
“Sumpah kepala daerah bertanggungjawab terhadap daerahya. Maju mundurnya daerah tergantung kepala daerah. Pemerintah pusat memberikan anggaran untuk daerah itu sendiri, bukan untuk daerah lain. Ini anaknya sendiri yang kelaparan, tapi malah bantu daerah lain,” kata Bupati Solok, Epyardi Asda, kepada deliknews.com, Selasa (28/6/22).
Menurut Epyardi Asda, mestinya DPRD Sumbar memanggil Gubernur untuk mempertanyakan kenapa dana Pemprov Sumbar dipakai untuk daerah lain.
“Kalau melanggar aturan harusnya DPRD panggil dia (gubernur). Pertanyakan kenapa dana Sumbar dipakai untuk daerah lain, sementara bencana di Sumbar tidak dia bantu,” tegasnya.
Dikatakan bupati ini, perlu juga DPRD pertanyakan kepada gubernur, kenapa koordinasi gubernur dengan bupati dan wali kota tidak jalan.
Epyardi Asda mengingat kembali soal bencana di Pasaman Barat (Pasbar) pada Februari 2022 lalu. Menurutnya, gempa Pasbar yang berdampak besar terhadap beberapa kabupaten itu seharusnya dikoordinasikan dengan bupati dan wali kota di Sumbar.
“Tidak ada ia umumkan, sehingga kami tidak bisa menganggarkan. Seharusnya dia (gubernur) memahami aturan, dan punya kapasitas untuk mengumumkan. Ajak bupati dan wali kota bagaimana menanggulanginya, itu tugasnya, tapi sepertinya tidak dilakukan,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, berdasarkan data bencana yang terjadi bersumber dari situs BNPB, pada Maret dan April 2021 terjadi 25 bencana bencana Banjir, Puting Beliung, Tanah Longsor dan Gempa Bumi pada sepuluh kabupaten/kota di wilayah Provinsi Sumbar tidak mendapatkan bantuan tanggap darurat yang bersumber dari BTT Provinsi Sumatera Barat. Hal ini menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk Bangsa Indonesia.
Bentuk penghormatan kepada para pahlawan bangsa serta pendahulu personel kepolisian ini sekaligus rangkaian dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-76 yang jatuh pada 1 Juli 2022 nanti.
"Kegiatan kali ini merupakan bagian penghormatan kita, terhadap para pahlawan nasional yang telah berjasa pada saat memperjuangkan kemerdekaan. Dan juga banyak senior-senior yang tentunya dimakamkan di taman makam pahlawan ini," kata Sigit di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2022).
Mantan Kabareskrim Polri ini menyampaikan bahwa, prosesi ziarah ini sekaligus untuk mengenang seluruh jasa dan perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan dalam meraih kemerdekaan untuk rakyat Indonesia.
"Bagi kami spirit perjuangan beliau-beliau, kemudian, hal positif dan juga di satu sisi adalah kesempatan kami untuk berikan penghormatan dan doa bagi para pendahulu kami," ujar Sigit.
Dengan adanya penghormatan ini, Sigit menekankan, sebagai generasi penerus bangsa, semangat yang dikobarkan dan dicita-citakan oleh para pendahulu bangsa harus terus diperjuangkan untuk saat ini dan kedepannya.
Semangat itu, dikatakan eks Kapolda Banten tersebut, harus dijadikan refleksi sebagai energi positif untuk terus memberikan yang terbaik untuk bangsa, negara, masyarakat dan institusi Polri, kedepannya.
"Kami terus melanjutkan apa yang telah beliau-beliau ukir dan menjadi warisan kita, serta akan terus kita perjuangkan untuk membawa institusi Polri menjadi lebih baik. Dan juga mengawal bangsa serta negara kita untuk terus melaksanakan programnya menuju Indonesia Emas tahun 2045," ucap Sigit.
"Ini merupakan warisan yang akan terus kita berikan kepada generasi-generasi muda kita selanjutnya," tambah Sigit sekaligus mengakhiri.
Gelar Festival Nusantara Gemilang, Kapolri: Pesan Moral Pentingnya Jaga Persatuan-Kesatuan
Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghadiri acara 'Festival Nusantara Gemilang' yang merupakan pagelaran pentas seni dan budaya. Kegiatan ini, masih dalam satu rangkaian menyambut Hari Bhayangkara ke-76.
Dalam kesempatan tersebut, Sigit mengungkapkan bahwa acara festival ini merupakan puncak penyatuan kegiatan yang sebelumnya diikuti dari perwakilan 34 Provinsi di seluruh Indonesia, yang diikuti sekitar 400 orang.
"Kemudian diambil 14 provinsi. Dari 14 provinsi ini dijadikan satu selanjutnya mereka melakukan kegiatan dan latihan bersama dalam suatu tempat, kemudian diberikan pelatihan mengenai wawasan kebangsaan, wawasan terkait budaya dan etika yang dilebur menjadi satu kegiatan, yang tadi bisa kita lihat begitu bagusnya dan ini merupakan bentuk dari kekayaan bangsa kita," kata Sigit di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Selasa (28/6/2022).
Mantan Kabareskrim Polri menyatakan bahwa, festival ini adalah bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagamaan dan kekayaan seni budaya. Apabila ini terus dikelola dan dikembangkan, kata Sigit akan menjadi satu energi dan kekuatan luar biasa bagi Indonesia, yang tak dimiliki negara lain.
"Berbagai macam etnis, suku, seni budaya di dalamnya, itu semua kekayaan kita yang harus kita jaga dan pertahankan," ujar Sigit.
Seni dan budaya yang ditampilkan dalam Festival Nusantara Gemilang, ditegaskan Sigit, menjadi pesan bagi seluruh elemen bangsa dan masyarakat Indonesia untuk terus menjaga dan saling menghormati keberagaman yang ada.
Dengan saling menjaga dan menghormati keberagaman yang ada, menurut Sigit, hal itu akan menguatkan nilai persatuan dan kesatuan yang merupakan kekuatan dari Bangsa Indonesia.
"Tentunya ini semua mengandung pesan moral pentingnya nilai kesatuan dan persatuan yang harus terus dikelola dan dijaga sebagai kekuatan besar yang akan membawa Indonesia menuju Indonesia Emas tahun 2045," tutur Sigit.
Dengan terjaganya persatuan dan kesatuan, Sigit berharap, keberagaman baik suku, budaya dan tradisi yang dimiliki akan terus menjadi kekuatan yang khas dari Bangsa Indonesia.
"Pesan yang disampaikan ke seluruh masyarakat Indonesia dengan keberagaman yang ada, seni, etnis dan suku tentunya harus kita jaga dan ini selalu pertahankan menjadi potensi besar. Semangat persatuan dan kesatuan yang ditunjukan adik-adik tadi, harus kita apresiasi dan kita dorong terus untuk digelorakan," tutup Sigit.
Dalam kesempatan ini, Sigit pun mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta, dewan juri, panitia penyelenggara serta seluruh pihak terkait sehingga acara festival ini berlangsung dengan sukses.